Honne-Tatemae dan Sikap Tidak Enakan ala Jawa
- 26 Nov 2025 20:25 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Konsep honne dan tatemae dalam budaya Jepang memiliki kemiripan yang cukup kuat dengan nilai-nilai budaya Jawa, khususnya dalam hal menjaga keharmonisan, kesopanan, dan etika berbicara. Keduanya sama-sama mengutamakan hubungan sosial yang rukun dengan cara mengontrol ekspresi diri dan memilih kata-kata secara hati-hati agar tidak menyinggung lawan bicara.
Dalam bahasa Jepang, honne (本音) berasal dari kanji 本 yang dapat berarti “benar”, seperti pada kata 本当 (hontou) yang berarti “benar”. Kanji kedua, 音, berarti “suara”. Secara harfiah, honne dapat diartikan sebagai “suara yang sebenarnya”, yaitu pikiran dan perasaan tulus seseorang. Sebaliknya, tatemae (建前) terdiri dari kanji 建 yang berkaitan dengan “membangun”, dan 前 yang berarti “di depan”. Bila digabung, makna simbolisnya adalah “bangunan di depan”, atau topeng sosial yang ditampilkan seseorang saat berinteraksi di ruang publik.
Menurut penjelasan fundforeducationabroad.org, tatemae dipahami sebagai cara masyarakat Jepang menjaga keharmonisan sosial, sebuah perilaku yang membuat mereka memilih untuk tidak menyampaikan penolakan atau perasaan sesungguhnya secara langsung. Mereka sering memberikan isyarat halus agar pihak lain “mengerti sendiri”, bukan dengan pernyataan blak-blakan seperti yang lazim dilakukan banyak orang Barat.
Dalam budaya Jawa, konsep yang paling dekat dengan tatemae adalah “tepa selira”, yaitu kemampuan menempatkan diri dan mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum bertindak atau berbicara. Sama seperti tatemae sebagai “topeng sosial” untuk menjaga keharmonisan, tepa selira mendorong seseorang untuk tidak berkata langsung atau blak-blakan, terutama jika hal itu berpotensi melukai hati orang lain.
Nilai lainnya adalah “andhap asor” (rendah hati) dan “ajining dhiri saka lathi” (harga diri seseorang tergantung pada tutur katanya). Dalam masyarakat Jawa, berbicara terlalu jujur secara langsung sering dianggap kurang sopan, mirip dengan alasan masyarakat Jepang menggunakan tatemae untuk menghindari konflik. Karena itu, ungkapan tidak langsung atau bahasa alus sering lebih diprioritaskan daripada pernyataan yang tegas.Sebagai contoh, ketika orang Jawa ingin menolak sebuah ajakan, mereka sering mengatakan, “Baik, nanti saya lihat dulu,” yang sebenarnya merupakan bentuk penolakan halus, sebuah pola komunikasi yang sangat mirip dengan contoh orang Jepang yang memberi alasan “sibuk” ketika sebenarnya tidak berminat bertemu. Bagi orang luar budaya Jawa maupun Jepang, pernyataan seperti ini bisa membingungkan karena makna sebenarnya berada “di balik kata”.Selain itu, budaya Jawa juga mengenal konsep “sungkan”, yaitu perasaan enggan atau tidak enak hati untuk berkata jujur jika itu berpotensi menimbulkan ketidakharmonisan. Hal ini sepadan dengan praktik honne dan tatemae di Jepang, yakni masyarakat sering menyembunyikan pikiran sebenarnya (honne) demi menjaga suasana tetap damai.Melalui kesamaan ini, terlihat bahwa konsep honne–tatemae bukan sekadar ciri khas Jepang, tetapi juga memiliki padanan dalam budaya Jawa yang sama-sama mengutamakan kerukunan, kesopanan, dan komunikasi tidak langsung. Memahami kedua sistem budaya ini membantu untuk menyadari bahwa cara berkomunikasi sangat dipengaruhi nilai-nilai sosial, dan bahwa kehati-hatian dalam berbicara merupakan bentuk penghormatan dalam banyak kebudayaan Asia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....