Sering Salah Kaprah, ternyata Ube dan Ubi Ungu Itu Berbeda

  • 05 Agt 2026 21:38 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Belakangan ini, menu makanan dan minuman berwarna ungu pastel marak menghiasi etalase kafe-kafe kekinian, toko roti artisan, hingga linimasa media sosial di Indonesia. Kehadiran olahan seperti ube latte, ube chiffon cake, hingga roti goguma pang khas Korea Selatan semakin mempopulerkan tren warna estetis ini. Namun, maraknya sajian tersebut kerap menimbulkan salah kaprah di tengah masyarakat lokal, di mana ube sering kali dianggap sebagai nama bahasa Inggris atau sekadar sebutan keren dari ubi ungu lokal.

Padahal, secara klasifikasi botani, asal-usul budaya, serta profil rasa, keduanya berasal dari jenis tanaman yang jauh berbeda.

Nama Lokal Indonesia dan Perbedaan Botani

Dalam kekayaan pangan lokal Indonesia, spesies ube (Dioscorea alata) sebenarnya dikenal dengan nama Uwi Ungu (atau Huwi Ungu dalam bahasa Sunda dan Uwi dalam bahasa Jawa). Tanaman umbi akar ini tumbuh merambat dengan kulit agak kasar. Karakteristik utamanya terletak pada teksturnya yang sangat creamy, rekat, berserat halus, serta memiliki aroma khas lembut manis alami yang memadukan sensasi vanila dan kacang (nutty).

Sementara itu, ubi ungu lokal yang umum dijumpai masyarakat Indonesia (Ipomoea batatas) serta jenis ubi yang digunakan dalam goguma pang Korea merupakan kelompok ubi jalar ungu (sering disebut telo ungu). Jenis ubi jalar ini memiliki tekstur yang lebih padat, berserat, serta memiliki rasa manis alami khas ubi jalar pada umumnya.

Pencetus Utama hingga Merambah Korea dan Indonesia

Sejarah ube bermula dari warisan budaya Filipina, di mana selama ribuan tahun bahan ini menjadi makanan pokok dan simbol kehangatan keluarga melalui olahan ube halaya atau selai umbi yang dimasak berjam-jam bersama susu dan mentega serta pelengkap es serut tradisional halo-halo. Dikutip RRI pada Rabu 5 Agustus 2026 dari laporan dalam siaran What in the World dari BBC World Service menyebutkan bahwa ube telah menjadi identitas kuliner masyarakat Filipina jauh sebelum menjadi fenomena global.

Titik balik keterkenalan ube di ranah barat (Western pop culture) pertama kali dicetuskan oleh koki asal Filipina, Björn DelaCruz, di restoran Manila Social Club, Brooklyn, New York pada 2016 melalui kreasinya Ube Donut berlapisan emas 24 karat yang viral secara masif.

Gelombang tren ini kemudian menyebar kuat ke Korea Selatan, negara yang sangat adaptif terhadap tren pangan estetis (visual food culture). Di Korea, ube diolah dalam sajian ube bingsu, bersamaan dengan meledaknya Goguma Pang (Goguma Ppang) roti kenyal berbentuk ubi jalar bermerek lokal. Tingginya pengaruh K-Food dan gaya hidup kafe ala Korea di Indonesia pada akhirnya membawa gelombang tren minuman dan camilan ungu ini merambah cepat ke tanah air.

Warna Alami dan Dilema Petani Lokal

Keunikan warna ungu intens pada ube murni terbentuk secara alami dari kandungan antioksidan antosianin yang sangat tinggi, bukan dari pewarna buatan. Tampilan visualnya yang sangat mencolok menjadikannya favorit para kreator konten di platform Instagram dan TikTok, yang mendorong berbagai jaringan waralaba kopi global ikut mengadopsi varian menu serupa.

Namun, di balik keberhasilan tren global ini, para petani lokal di Filipina justru menghadapi tantangan besar. Laporan BBC mencatat bahwa lonjakan permintaan ekspor internasional yang naik drastis sering kali tidak sebanding dengan kapasitas panen tanaman ube yang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca ekstrem. Kondisi ini kerap memicu kelangkaan pasokan di pasar domestik Filipina, penurunan kualitas hasil panen, hingga munculnya dorongan dari masyarakat lokal agar konsumen global tetap menghargai ube sebagai warisan budaya dan sejarah Filipina, bukan sekadar komoditas tren visual semata.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....