Warung Sapu Jagad Andalkan Kayu Bakar demi Rasa Autentik

  • 10 Mei 2026 19:07 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Di tengah maraknya restoran modern, sebuah warung makan di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, tetap mempertahankan cara memasak tradisional menggunakan tungku kayu bakar. Cara itu dilakukan untuk menjaga cita rasa auntentik kuliner khas Suku Osing.

Warung Makan Sapu Jagad menjadi salah satu tempat kuliner yang dikenal menyajikan makanan khas Banyuwangi dengan rasa autentik. Seluruh menu dimasak menggunakan kayu bakar, mulai dari pecel pitik, ayam uyah asem, nasi tempong, hingga jajanan tradisional seperti kucur dan semanggi.

Pemilik Warung Makan Sapu Jagad, Mohammad Yazid Sofyan, mengatakan penggunaan tungku kayu bakar sengaja dipertahankan agar rasa masakan tetap seperti masakan rumahan masyarakat Osing tempo dulu.

“Pesan utama kami memang ingin menghadirkan kuliner khas yang dibuat sebagaimana warga setempat memasaknya di rumah masing-masing zaman dulu,” ujar Sofyan, Minggu, 10 Mei 2026.

Menurutnya, memasak menggunakan kayu bakar memberikan aroma dan cita rasa berbeda dibanding penggunaan kompor gas. Asap dari kayu bakar membuat bumbu lebih meresap dan menghasilkan rasa khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Warung yang berada di kawasan Desa Wisata Adat Osing Kemiren itu juga hanya menyajikan menu-menu lokal Banyuwangi. Pengunjung tidak akan menemukan makanan cepat saji maupun menu ala barat di tempat tersebut.

Selain mempertahankan cara memasak tradisional, sebagian bahan baku juga diproduksi sendiri. Pengelola memiliki peternakan ayam kampung skala kecil untuk memenuhi kebutuhan menu utama.

“Ayam kami dipanen saat usia sekitar 3 bulan sampai 3,5 bulan supaya tekstur dan rasanya pas saat diolah,” kata Sofyan.

Tidak hanya itu, daun semanggi untuk kudapan juga ditanam sendiri di kebun sekitar warung. Bahkan, kayu bakar yang digunakan berasal dari ranting dan dahan pohon di sekitar kebun tersebut.

Suasana tradisional semakin terasa karena sebagian besar bangunan warung menggunakan material kayu dengan desain khas pedesaan Osing. Pengunjung juga dapat melihat langsung proses memasak tradisional, terutama untuk pemesanan rombongan di Sanggar Sapu Jagad yang berada di belakang warung.

Keunikan tersebut membuat Warung Makan Sapu Jagad tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan kuliner dan budaya lokal Banyuwangi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....