Jijik Jadi Tantangan Konsumsi Serangga
- 12 Jan 2026 11:50 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Meski dikenal sebagai sumber protein yang tinggi dan ramah lingkungan, konsumsi serangga masih dianggap menjijikkan oleh banyak orang, terutama di negara-negara Barat. Hal tersebut diulas dalam laporan BBC Future, yang menyoroti faktor psikologis dan budaya di balik penolakan terhadap praktik makan serangga atau entomofagi.
Dalam artikel yang dimuat BBC Future, dijelaskan bahwa rasa jijik bukan sekadar soal selera, melainkan mekanisme alami manusia untuk menghindari makanan yang dianggap berisiko bagi kesehatan. Karena serangga tidak pernah menjadi bagian dari budaya makan di sebagian masyarakat, otak secara otomatis mengasosiasikannya dengan sesuatu yang kotor atau berbahaya.
BBC Future juga menuliskan bahwa di banyak wilayah Afrika, Asia, dan Amerika Latin, serangga seperti jangkrik, belalang, dan ulat justru telah lama dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari. Namun, norma budaya di Eropa dan Amerika Utara membuat serangga sulit diterima sebagai bahan pangan, meskipun nilai gizinya setara bahkan melebihi daging konvensional.
Selain faktor budaya, bentuk fisik serangga yang kerap disajikan secara utuh — lengkap dengan kaki dan kepala — disebut BBC Future turut memperkuat rasa enggan konsumen. Berbeda dengan daging sapi atau ayam yang telah diproses sehingga tidak lagi menyerupai hewan aslinya, serangga dianggap terlalu “nyata” sebagai makhluk hidup.
BBC Future menegaskan, tantangan terbesar pengembangan pangan berbasis serangga bukan terletak pada kandungan gizi atau dampak lingkungan, melainkan pada perubahan persepsi dan kebiasaan masyarakat. Para peneliti meyakini, penerimaan terhadap serangga sebagai makanan baru bisa meningkat seiring waktu, terutama jika diperkenalkan dalam bentuk olahan yang lebih familiar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....