Mengapa Wisatawan Rela Mengantre Demi Makanan Viral?

  • 07 Jan 2026 07:50 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Fenomena antrean panjang demi makanan viral kini menjadi pemandangan yang umum di berbagai kota di dunia. Dari kentang goreng di Amsterdam hingga pizza di New York. Dalam Laporan BBC News (06/12/25) para ahli di bidang pariwisata, psikologi dan perilaku manusia menilai tren ini bukan hanya soal rasa kuliner saja, melainkan dipengaruhi juga oleh kekuatan psikologi social dan budaya media digital. Hal ini membuat camilan sehari-hari menjadi buruan para wisatawan saat berwisata.

Fenomena tersebut tidak jauh dari pengaruh media sosial yang mengubah cara orang bepergian dan menikmati kuliner. Antrean bukan lagi sekedar tanda ramainya sebuah tempat, melainkan simbol popularitas yang memunculkan rasa Fear of Missing Out (FOMO). Rachel S. Herz, dosen tamu bidang psikiatri dan perilaku manusia di Brown University Alpert Medical School sekaligus penulis buku Why You Eat What You Eat, menjelaskan bahwa "ketika orang melihat banyak orang lain mengantre untuk sesuatu, hal tersebut membuat objek yang dituju terasa lebih menarik dan bernilai, serta memicu rasa takut ketinggalan pengalaman (FOMO)". 

Menurut Cathrine Jansson-Boyd, professor Psikologi Konsumen dari Anglia Ruskin University,Kondisi ini sebagai bentuk pembuktian social. Ketika perilaku mengantre terus terlihat berulang kali di media social, hal tersebut perlahan dianggap wajar bahkan menjadi sesuatu yang harus dilakukan saat berwisata. Rasa untuk ikut merasakan pun semakin kuat, terutama karena hal ini bisa diunggah dalam ruang digital yang bisa ditonton banyak orang. 

Tidak hanya FOMO yang bisa dijadikan alasan wisatawan rela mengatre panjang demi makanan viral, ada juga peran algoritma yang memperkuat pola ini. Mayoritas wisatawan di giring oleh algoritma untuk menuju tempat yang sama, sehingga menciptakan lonjakan hasil sistem digital. 

Meskipun wisatawan menyadari bahwa perilaku tersebut sering didorong oleh sensasi, mereka tetap bergabung untuk melakukannya.Bagi mereka, proses menunggu telah menjadi bagian penting dari pengalaman kuliner itu sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....