Cegah Kendala Laktasi, dr. Dewi Imbau Belajar Teknik Menyusui sejak Hamil
- 17 Sep 2026 05:21 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Keberhasilan memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif kerap dianggap sebagai proses alamiah yang berjalan otomatis pascapersalinan. Padahal, proses menyusui menuntut kesiapan pengetahuan, mental, hingga keterampilan teknis yang sejatinya perlu dipelajari sejak masa kehamilan.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Sp.OG), dr. Dewi Ayu Astari, Sp.OG, menekankan bahwa pasangan suami istri sebaiknya tidak menunda untuk mempelajari manajemen laktasi hingga bayi sudah lahir.
"ASI sebenarnya sudah mulai diproduksi oleh kelenjar payudara sejak usia kehamilan 16 minggu. Namun, hormon kehamilan menahannya agar tidak keluar sebelum waktunya. Karena itu, persiapan dan edukasi menyusui idealnya dilakukan sejak hamil agar orang tua sudah memiliki bekal ilmu (muscle memory) saat bayi lahir," ujar dr. Dewi dalam dialog Indonesia Sehat di Pro 1 RRI Jember pada Jum’at, 28 Agustus 2026.
dr. Dewi juga menegaskan pentingnya keterlibatan aktif sang suami. Menurutnya, proses menyusui adalah tanggung jawab bersama, bukan semata-mata beban seorang ibu.
"Menyusui itu harus dilakukan berdua. Karena kehamilan terjadi dari dua orang, maka persiapan persalinan hingga menyusui juga harus berkolaborasi," tambahnya.
Penyebab Utama Keluhan Menyusui dan Solusinya
Dalam sesi dialog tersebut, dr. Dewi meluruskan sejumlah mitos serta membagikan langkah antisipasi medis terkait kendala yang kerap dialami ibu baru:
- Posisi dan Perlekatan (Latch-on): Rasa sakit atau lecet pada puting saat menyusui umumnya bukan hal normal, melainkan akibat kesalahan teknik perlekatan. Bayi idealnya menghisap sebagian besar area areola (area gelap payudara), bukan hanya puting. Selain itu, posisi kepala, leher, dan tubuh bayi harus berada dalam satu garis lurus.
- Ukuran Payudara dan Bentuk Puting: Ukuran payudara yang kecil atau bentuk puting datar (flat nipple) sering memicu rasa tidak percaya diri. Padahal, jumlah kelenjar pembuat ASI pada setiap wanita pada dasarnya sama—yang membedakan hanya jaringan lemak. Puting hanyalah saluran luar, sehingga bentuk puting apa pun tetap memungkinkan untuk menyusui secara efektif.
- Fase Awal Pascapersalinan (2–4 Hari Pertama): ASI yang belum keluar melimpah pada hari pertama hingga ketiga setelah melahirkan adalah hal yang wajar. Bayi baru lahir memiliki kapasitas lambung yang masih sangat kecil (sekitar 5–7 cc atau setara kelereng) dan memiliki cadangan energi alami. Masyarakat diimbau tidak terburu-buru memberikan susu formula menggunakan dot tanpa indikasi medis, karena dapat memicu masalah bingung puting pada bayi.
- Penggunaan Booster ASI: Penggunaan suplemen pemacu ASI (booster) bersifat tambahan. Yang utama tetaplah asupan nutrisi seimbang (tinggi protein hewani dan kecukupan cairan 2,5–3 liter per hari) serta kondisi mental ibu yang tenang dan percaya diri.
Dukungan Lingkungan dan Konseling Laktasi
dr. Dewi berpesan agar para calon orang tua tidak ragu memanfaatkan layanan konseling laktasi atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum melahirkan. Dukungan keluarga yang suportif dan hindaran dari stigma atau mitos yang keliru menjadi kunci penting agar ibu dapat menyusui dengan nyaman hingga dua tahun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....