Persiapan Menyusui sejak Hamil Penentu Keberhasilan Pemberian ASI

  • 31 Agt 2026 07:19 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Persiapan menyusui sejak masa kehamilan menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan pemberian Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi. Selain kesiapan fisik, pemahaman mengenai manajemen laktasi, kondisi psikologis ibu, serta dukungan keluarga turut berperan dalam menjaga kelancaran proses menyusui. Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Dewi Ayu Astari P., Sp.OG., dalam dialog interaktif Indonesia Sehat Pro 1 RRI Jember bertajuk “Berhasil Menyusui Dimulai dengan Persiapan Sejak Hamil”, Jumat 28 Agustus 2026.

Menurut dr. Dewi, produksi ASI sebenarnya telah dimulai sejak usia kehamilan memasuki 16 minggu. Pada fase tersebut, sel-sel kelenjar payudara sudah mulai memproduksi ASI, meskipun belum keluar karena masih dipengaruhi oleh mekanisme hormonal selama kehamilan.

“Sebenarnya ASI itu mulai diproduksi sejak usia kehamilan 16 minggu. Sel-sel kelenjar payudara sudah mulai memproduksi ASI, cuman memang sampai 9 bulan dia tidak akan keluar karena kerja hormon yang sedemikian rupa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, calon ibu perlu membekali diri dengan pengetahuan dasar mengenai laktasi sebelum persalinan. Salah satu aspek penting yang harus dipahami adalah teknik menyusui yang benar, termasuk posisi tubuh bayi dan perlekatan mulut bayi pada payudara.

Menurutnya, posisi menyusui yang kurang tepat dapat menyebabkan rasa nyeri pada ibu serta membuat bayi tidak memperoleh ASI secara optimal. Kepala, leher, dan badan bayi harus berada dalam satu garis lurus agar proses menyusui berlangsung nyaman dan efektif.

Selain teknik menyusui, dr. Dewi juga meluruskan anggapan yang masih banyak beredar di masyarakat terkait bentuk atau ukuran payudara yang dianggap memengaruhi produksi ASI. Ia menegaskan bahwa jumlah ASI tidak ditentukan oleh ukuran payudara, melainkan oleh kerja hormon prolaktin dan oksitosin yang mengikuti prinsip supply and demand.

“Enggak perlu khawatir bentuk payudara itu mempengaruhi produksi ASI, karena tadi ASI itu sifatnya supply and demand, semakin banyak dia dibutuhkan semakin sering dia dikosongkan

maka produksinya juga akan semakin banyak,” katanya.

Lebih lanjut, dr. Dewi menekankan pentingnya dukungan keluarga, terutama suami, dalam mendampingi ibu selama masa menyusui. Dukungan emosional yang baik dapat membantu menjaga kondisi psikologis ibu sehingga produksi ASI tetap optimal.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kendala dalam proses menyusui. Menurutnya, berbagai permasalahan laktasi dapat diatasi melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan maupun konselor laktasi yang kompeten.

Pada kesempatan tersebut, dr. Dewi mengimbau masyarakat untuk mencari informasi dari sumber yang kredibel dan tidak terburu-buru beralih ke susu formula atau penggunaan dot tanpa konsultasi terlebih dahulu.

Dengan persiapan yang dilakukan sejak masa kehamilan, pemahaman yang memadai, serta dukungan keluarga yang kuat, diharapkan para ibu dapat menjalani proses menyusui secara optimal sehingga kebutuhan nutrisi bayi terpenuhi dengan baik sejak awal kehidupan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....