Mengenal Narsisme: Bukan Cuma Suka "Narsis", Ini Ciri dan Cara Melindungi Diri

  • 10 Agt 2026 17:20 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Kata "narsis" atau narcissist makin sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari maupun di media sosial. Sering kali kita dengan gampang menyebut mantan pasangan, teman yang egois, atau orang yang suka berswafoto sebagai orang yang "narsis". Tapi tahu tidak? Secara psikologi, narsisme sebenarnya jauh lebih rumit dari sekadar sifat suka pamer atau egois biasa.

Dikutip RRI melalui siaran di BBC World Service pada Senin, 10 Agustus 2026, seorang pakar psikologi klinis, Dr. Ramani Durvasula, menjelaskan bahwa narsisme adalah sebuah gaya kepribadian (personality style), bukan cuma satu sifat buruk semata.

"Narsisme itu ditandai dengan empati yang sangat minim, sifat egois yang berlebihan, serta haus akan pujian dan pembenaran. Ketika semua sifat ini menyatu, barulah membentuk kepribadian narsistik," jelas Dr. Ramani Durvasula.

Ciri Utama dan Mitos Soal Empati

Dr. Ramani mematahkan anggapan kalau seorang narsisis sama sekali tidak punya empati. Menurutnya, mereka sebenarnya masih bisa menunjukkan empati di hari-hari tertentu. Nah, sifat pasang-surut inilah yang sering membuat orang di sekitarnya bingung dan terkecoh.

Selain selalu butuh dipuji, ciri khas utama seorang narsisis adalah merasa paling berhak (entitlement) untuk mendapat perlakuan istimewa. Mereka juga sangat kesulitan mengontrol emosi. Saat keinginannya tidak dituruti, mereka bisa langsung mengamuk atau justru melakukan silent treatment (mendiamkan pasangan).

Sifat narsistik yang tampak di tengah masyarakat diperkirakan dialami oleh sekitar 12 persen orang, atau setara dengan 1 dari 10 orang di sekitar kita.

Apakah Orang Narsisis Bisa Berubah?

Banyak orang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat (toxic relationship) karena berharap pasangannya suatu hari bisa berubah. Namun, Dr. Ramani menegaskan bahwa peluang seorang narsisis untuk berubah itu sangat kecil.

Penyebabnya adalah mereka hampir tidak punya kemampuan untuk mengoreksi diri sendiri (self-reflection). Seorang narsisis sangat sulit mengakui bahwa dirinya salah. Bahkan saat menjalani terapi, kebanyakan dari mereka memilih berhenti ketika mulai diajak melakukan pembenahan emosional yang mendalam.

"Mengubah kepribadian yang sudah mengakar itu ibarat merubuhkan gedung pencakar langit, prosesnya sangat berat dan butuh niat yang luar biasa," ujar Dr. Ramani.

Cara Melindungi Diri dan Kesehatan Mental Anda

Agar tidak terjebak atau lelah emosional saat berhadapan dengan orang seperti ini, Dr. Ramani membagikan dua tips sederhana:

  • Dengarkan Sinyal Tubuh: Tubuh kita biasanya memberikan respon otomatis, seperti rasa tidak nyaman, cemas, atau tertekan saat kita sedang bersama orang yang tidak aman secara emosional. Jangan abaikan firasat tersebut.
  • Gunakan "Aturan Tiga Kali Pola" (Pattern of Three): Jika seseorang menunjukkan sikap yang membuat Anda tidak nyaman atau tidak dihargai sebanyak tiga kali, percayalah bahwa itu adalah karakternya. Segera ambil jarak dan batasi interaksi.

Menjaga batasan diri (boundaries) serta tidak terburu-buru memberikan kepercayaan penuh pada orang baru adalah kunci utama untuk menjaga kesehatan mental Anda.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....