Vasektomi Tak Ganggu Kejantanan, Dinsos P3AKB Minta Warga Tak Percaya Mitos

  • 28 Jul 2026 19:22 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso – Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Keluarga Berencana (Dinsos P3AKB) Kabupaten Bondowoso menegaskan bahwa vasektomi atau Metode Operasi Pria (MOP) tidak memengaruhi kemampuan ereksi maupun kejantanan laki-laki. Masyarakat diminta tidak lagi mempercayai anggapan keliru yang selama ini berkembang mengenai metode kontrasepsi jangka panjang tersebut.

Kepala Dinsos P3AKB Bondowoso, dr. Mohammad Imron, mengatakan vasektomi merupakan tindakan medis dengan memutus saluran vas deferens, yaitu saluran yang membawa sperma dari testis menuju penis. Saat ini prosedur tersebut dilakukan menggunakan teknik Vasektomi Tanpa Pisau (VTP) sehingga lebih sederhana dan minim tindakan bedah.

"Yang dipotong hanya saluran sperma, bukan testisnya. Jadi hormon laki-laki tetap normal sehingga tidak memengaruhi kemampuan ereksi maupun fungsi seksual," kata Imron, Senin 27 Juli 2026.

Ia menjelaskan, vasektomi sangat berbeda dengan tindakan kebiri. Pada kebiri, testis diangkat sehingga produksi hormon terganggu. Sementara pada vasektomi, kedua testis tetap utuh sehingga hormon testosteron tetap diproduksi secara normal.

Menurut Imron, terdapat sejumlah syarat bagi pria yang ingin mengikuti program MOP, di antaranya sudah memiliki anak, berada dalam kondisi sehat, serta memperoleh persetujuan dari istri.

"Kalau sudah memiliki dua anak tentu lebih baik. Namun apabila baru memiliki satu anak dan suami istri sudah sepakat tidak ingin menambah keturunan, itu juga diperbolehkan. Yang paling penting harus ada persetujuan dari istri," ujarnya.

Imron mengungkapkan, Bondowoso pernah menjadi salah satu daerah dengan capaian peserta vasektomi tertinggi di Indonesia. Saat itu jumlah akseptor mencapai lebih dari seribu orang dan mengantarkan Bondowoso meraih penghargaan nasional pada peringatan Hari Keluarga Nasional di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir jumlah peserta terus mengalami penurunan. Berdasarkan data Dinsos P3AKB, peserta MOP tercatat sebanyak 36 orang pada 2023, turun menjadi enam orang pada 2024, kemudian meningkat menjadi delapan orang pada 2025. Hingga pertengahan 2026, jumlah peserta baru mencapai 10 orang.

Meski demikian, Imron menilai penurunan tersebut bukan disebabkan minimnya minat masyarakat, melainkan keterbatasan anggaran pemerintah yang membatasi kuota layanan gratis setiap tahun.

"Sebenarnya peminatnya lebih banyak. Saat kegiatan Hari Keluarga Nasional kemarin, yang ingin ikut lebih dari 10 orang. Tetapi kuota yang dibiayai pemerintah hanya 10 peserta sehingga kami tidak bisa melayani lebih dari itu," jelasnya.

Selain keterbatasan anggaran, kendala lain adalah semakin sedikitnya tenaga medis yang aktif memberikan layanan vasektomi. Padahal, Bondowoso memiliki sekitar enam dokter yang telah mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikasi untuk melakukan tindakan tersebut.

"Kenyataannya saat ini hanya satu sampai dua dokter yang masih aktif memberikan pelayanan vasektomi," katanya.

Dinsos P3AKB mengimbau masyarakat yang berminat mengikuti program vasektomi agar berkonsultasi terlebih dahulu melalui Balai KB di masing-masing kecamatan atau Penyuluh KB bersama kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD). Konsultasi juga disarankan dilakukan bersama pasangan agar keputusan diambil berdasarkan pemahaman yang benar.

"Kalau di luar program pemerintah, tindakan ini bisa dilakukan secara mandiri sesuai jadwal dokter yang memberikan pelayanan," pungkas Imron.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....