Kurang Tidur Picu Risiko Penyakit Serius
- 28 Jul 2026 14:30 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Kurang tidur telah menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin umum di era modern. Pola hidup yang serba cepat, tekanan pekerjaan, serta kebiasaan menggunakan perangkat digital hingga larut malam membuat banyak orang mengabaikan kebutuhan istirahat yang cukup. Padahal, tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat, melainkan proses penting bagi tubuh untuk melakukan pemulihan dan menjaga keseimbangan fungsi organ. Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention pada 2025, merekomendasikan orang dewasa mendapatkan waktu tidur antara tujuh hingga sembilan jam setiap malam untuk menjaga kesehatan optimal.
Dampak kurang tidur tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek seperti rasa lelah, mengantuk, atau menurunnya produktivitas. Dalam jangka panjang, kurang tidur dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang sering tidur kurang dari enam jam per malam memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung, tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, hingga stroke. Hal ini terjadi karena kurang tidur dapat memicu peradangan dalam tubuh serta mengganggu fungsi sistem kardiovaskular.
| Baca juga: Tips Cegah Penyakit Tidak Menular |
Selain berdampak pada kesehatan fisik, kurang tidur juga berpengaruh besar terhadap fungsi otak. Saat tidur, otak melakukan proses konsolidasi memori dan pemulihan kognitif. Ketika waktu tidur tidak mencukupi, kemampuan berpikir, konsentrasi, dan pengambilan keputusan akan menurun. Hal ini dapat meningkatkan risiko kesalahan dalam bekerja maupun beraktivitas, termasuk kecelakaan lalu lintas. Tidak hanya itu, kurang tidur juga berkaitan erat dengan gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan perubahan suasana hati yang tidak stabil.
Kurang tidur juga memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh. Hormon ghrelin yang merangsang rasa lapar akan meningkat, sementara hormon leptin yang memberi sinyal kenyang justru menurun. Akibatnya, seseorang cenderung merasa lebih lapar dan mengonsumsi makanan berkalori tinggi, terutama makanan manis dan berlemak. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, risiko kenaikan berat badan dan obesitas akan semakin besar, yang pada akhirnya dapat memicu berbagai penyakit metabolik.
Dampak lainnya yang sering tidak disadari adalah menurunnya sistem kekebalan tubuh. Saat tidur, tubuh memproduksi sitokin, yaitu protein yang membantu melawan infeksi dan peradangan. Kurang tidur dapat mengurangi produksi zat tersebut, sehingga tubuh menjadi lebih rentan terhadap penyakit, mulai dari flu ringan hingga infeksi yang lebih serius. Inilah alasan mengapa seseorang yang kurang tidur lebih mudah jatuh sakit dibandingkan mereka yang memiliki waktu istirahat cukup.
Untuk mengatasi masalah ini, penting bagi setiap individu untuk mulai memperbaiki pola tidur. Menjaga konsistensi waktu tidur dan bangun, menghindari konsumsi kafein di malam hari, serta mengurangi paparan layar gadget sebelum tidur dapat membantu meningkatkan kualitas istirahat. Lingkungan tidur yang nyaman, gelap, dan tenang juga berperan penting dalam menciptakan tidur yang lebih nyenyak. Selain itu, aktivitas fisik secara rutin di siang hari juga terbukti membantu memperbaiki kualitas tidur pada malam hari.
Kesadaran akan pentingnya tidur harus menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Sama seperti pola makan dan olahraga, tidur yang cukup merupakan fondasi utama dalam menjaga kesehatan tubuh dan mental. Dengan memperhatikan kualitas tidur, seseorang tidak hanya dapat meningkatkan energi dan produktivitas, tetapi juga mengurangi risiko berbagai penyakit serius di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....