Kader Yabhysa Bondowoso Temukan 185 Kasus TBC
- 01 Jul 2026 19:15 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Bondowoso - Peran kader komunitas dalam penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Bondowoso terus menunjukkan hasil. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, kader binaan Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (Yabhysa) Bondowoso berhasil menemukan 185 kasus positif TBC, termasuk 48 pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO), melalui penelusuran langsung di tengah masyarakat.
Staf Program SSR Yabhysa Bondowoso, Hijrotul Ilahiyah, mengatakan data tersebut merupakan hasil pendampingan kader di tingkat komunitas sehingga berbeda dengan data resmi Dinas Kesehatan. Menurutnya, tidak semua pasien TBC ditemukan melalui kader karena sebagian datang secara mandiri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
"Ini berbeda dengan data Dinas Kesehatan karena tidak semua pasien ditemukan oleh kader. Ada juga pasien yang datang sendiri ke puskesmas sehingga tidak masuk dalam data kami," ujar Hijrotul, Rabu, 1 Juli 2026.
Ia menjelaskan, sejak tahun 2021 Yabhysa menjadi lembaga yang menjalankan program pendampingan TBC di Kabupaten Bondowoso setelah masa transisi dari organisasi sebelumnya.
Saat ini terdapat sekitar 70 hingga 80 kader yang telah mendapatkan pelatihan di seluruh wilayah Bondowoso. Namun, sekitar 50 kader masih aktif secara konsisten melakukan pendampingan pasien dan pelaporan kasus.
Hijrotul menerangkan, kader bekerja menggunakan metode investigasi kontak. Mereka mendatangi rumah pasien yang telah tercatat dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), kemudian berkoordinasi dengan penanggung jawab program TBC di puskesmas.
Selain memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga, kader juga mengidentifikasi kontak serumah maupun kontak erat yang berisiko tertular agar menjalani pemeriksaan kesehatan.
Bagi anggota keluarga yang belum menunjukkan gejala, kata dia, akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sesuai pedoman nasional.
"TPT ada beberapa regimen, seperti 3HP yang diminum seminggu sekali selama tiga bulan, 3HR selama tiga bulan setiap hari, dan 6HR selama enam bulan. Di lapangan, petugas maupun pasien lebih banyak memilih regimen 3HP karena lebih praktis," ungkap Hijrotul.
Ia menegaskan, terapi pencegahan menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan TBC. Karena itu, pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada penggunaan masker maupun pengobatan pasien yang sudah terdiagnosis.
Pendampingan kader Yabhysa kini menjangkau 22 kecamatan di Kabupaten Bondowoso. Hanya Kecamatan Sempol yang belum memiliki kader aktif akibat keterbatasan sumber daya manusia dan kondisi geografis.
Berdasarkan data sementara tahun 2026, jumlah temuan kasus terbanyak berasal dari Kecamatan Tenggarang sebanyak 28 kasus. Disusul Kecamatan Jambesari dan Kecamatan Pujer yang masing-masing mencatat 19 kasus.
Meski rutin berinteraksi dengan pasien TBC, Hijrotul memastikan hingga saat ini belum ada kader aktif Yabhysa yang tertular penyakit tersebut. Hal itu tidak terlepas dari pembekalan rutin mengenai prosedur keselamatan kerja.
Setiap tahun, seluruh kader mengikuti pelatihan serta monitoring dan evaluasi setiap tiga bulan untuk mengingatkan penerapan standar perlindungan diri saat mendampingi pasien.
"Kami selalu mengingatkan bagaimana cara melindungi diri saat mendampingi pasien. Kader dibekali masker, hand sanitizer, dan untuk kasus TBC resisten obat menggunakan masker respirator atau N95. Sampai sekarang belum ada kader kami yang tertular TBC," tutur Hijrotul.
Selain menemukan kasus baru, kader juga berperan mengedukasi masyarakat agar memahami bahwa TBC merupakan penyakit yang dapat disembuhkan dan bukan penyakit turunan maupun akibat hal mistis.
"Dulu masyarakat banyak yang menganggap TBC itu penyakit turunan atau karena hal mistis. Sekarang pemahaman masyarakat sudah jauh lebih baik sehingga kader lebih mudah diterima," kata Hijrotul.
Meski demikian, stigma terhadap penderita TBC masih menjadi tantangan. Sebagian pasien masih menolak kunjungan kader karena khawatir identitas penyakitnya diketahui orang lain.
"Bahkan dulu pernah ada kader yang ditutup pintunya. Sampai sekarang masih ada yang menolak, terutama di wilayah perkotaan. Biasanya mereka khawatir penyakitnya diketahui orang lain. Yang memiliki jabatan atau status sosial tertentu justru kadang lebih sulit menerima kunjungan kader karena merasa malu," paparnya.
Sementara itu, MK TBC RO Yabhysa Bondowoso, Sofyan Suryantara Nofriyanto, menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2026 terdapat 48 pasien TBC Resisten Obat yang didampingi.
"Sejak tahun 2024 itu pasien TBC RO sebanyak 108. Alhamdulillah selama tiga tahun ada penurunan," pungkas Sofyan.
Menurutnya, angka tersebut tidak seluruhnya merupakan kasus baru karena sebagian merupakan pasien yang masih menjalani pengobatan dari tahun sebelumnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....