Evolusi Biologis Manusia Dewasa dalam Mengonsumsi Susu

  • 29 Jun 2026 11:56 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Saat ini, minum segelas susu merupakan hal yang biasa bagi banyak orang. Namun, ribuan tahun lalu sebagian besar manusia dewasa justru tidak mampu mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu. Menurut laporan Helen Thompson yang diterbitkan NPR pada 28 Desember 2012, kemampuan mencerna susu hingga usia dewasa merupakan hasil perubahan genetik yang berlangsung relatif cepat dalam sejarah evolusi manusia.

Pada dasarnya, hampir semua bayi memiliki enzim laktase, yang berfungsi memecah laktosa sehingga susu dapat dicerna dengan baik. Namun pada masa lampau, produksi enzim tersebut biasanya berhenti setelah seseorang beranjak dewasa. Akibatnya, sebagian besar orang dewasa mengalami intoleransi laktosa, yaitu kondisi ketika tubuh kesulitan mencerna susu segar.

Kini, sekitar 35 persen populasi dunia, terutama mereka yang memiliki keturunan Eropa, mampu mempertahankan produksi enzim laktase sepanjang hidup. Menurut ahli genetika evolusi dari University College London, Mark Thomas, penyebab pasti perubahan ini masih menjadi perdebatan ilmiah.

Meski demikian, para ilmuwan memiliki sejumlah petunjuk. Sekitar 8.000 tahun lalu, ketika manusia mulai memelihara sapi, kambing, dan domba di wilayah yang kini menjadi Turki, masyarakat mulai mengonsumsi susu secara rutin. Pada periode yang hampir bersamaan, muncul mutasi genetik di sekitar gen penghasil laktase yang memungkinkan sebagian orang tetap dapat mencerna susu hingga dewasa.

Susu sendiri merupakan sumber nutrisi yang sangat kaya. Kandungan protein, karbohidrat, kalsium, serta berbagai mikronutrien menjadikannya makanan bernilai tinggi bagi para petani pada masa Neolitik. Bahkan, menurut Mark Thomas, susu dapat dianggap sebagai "superfood" bagi masyarakat pada masa itu.

Menariknya, sebelum mutasi tersebut menyebar luas, masyarakat sebenarnya telah menemukan cara untuk mengurangi kandungan laktosa dalam susu dengan mengolahnya menjadi keju atau yogurt. Proses fermentasi tersebut membuat produk susu lebih mudah dicerna oleh orang yang intoleran laktosa.

Salah satu teori yang banyak dibahas menyebutkan bahwa kombinasi kelaparan dan konsumsi susu segar mendorong seleksi alam terhadap individu yang mampu mencerna laktosa. Thomas menjelaskan bahwa para petani yang bermigrasi ke Eropa Utara membawa tanaman seperti gandum dari kawasan Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent). Namun, musim tanam yang lebih pendek membuat hasil panen sering gagal sehingga memicu kelaparan.

Di sisi lain, suhu yang lebih dingin di Eropa Utara menyebabkan susu tetap segar lebih lama dibandingkan di wilayah selatan yang lebih hangat, tempat susu lebih cepat berubah menjadi yogurt. Dalam kondisi kekurangan makanan, masyarakat kemungkinan lebih sering mengonsumsi susu segar. Bagi orang yang mengalami intoleransi laktosa, konsumsi susu segar dapat menyebabkan diare berat yang berpotensi mematikan, terutama jika tubuh sedang mengalami malnutrisi.

Karena itu, individu yang memiliki mutasi genetik sehingga tetap menghasilkan enzim laktase memiliki peluang bertahan hidup lebih besar dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Selama ribuan tahun, sifat tersebut kemudian diwariskan kepada keturunannya hingga menjadi umum pada populasi tertentu.

Meski demikian, teori ini bukan satu-satunya penjelasan. Sejumlah peneliti lain mengemukakan bahwa susu mungkin menjadi sumber cairan yang lebih aman dibanding air yang tercemar, meningkatkan kesuburan, bahkan memberikan perlindungan terhadap penyakit seperti malaria di Afrika dan Eropa Selatan atau rakitis di Eropa Utara.

Mark Thomas menilai kemungkinan besar tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan evolusi toleransi laktosa. Menurutnya, tekanan seleksi yang dialami setiap wilayah kemungkinan berbeda-beda, tergantung kondisi lingkungan, pola makan, serta tantangan kesehatan yang dihadapi masyarakat setempat.

Penelitian mengenai DNA purba juga terus memberikan petunjuk baru. Bukti keberadaan gen toleransi laktosa telah ditemukan pada kerangka manusia kuno dari Eropa Utara, Skandinavia, Prancis selatan, hingga Spanyol yang berusia sekitar 5.000 tahun. Seiring berkembangnya teknologi genetika dan arkeologi, para ilmuwan berharap suatu saat nanti dapat mengungkap secara lebih pasti penyebab kemampuan mencerna susu pada usia dewasa dapat menyebar begitu cepat dalam sejarah manusia.

Perjalanan evolusi toleransi laktosa masih menyimpan banyak misteri. Namun satu hal yang jelas, segelas susu yang kini dinikmati jutaan orang setiap hari merupakan hasil adaptasi biologis yang berlangsung selama ribuan tahun dan menjadi salah satu contoh paling menarik tentang cara pola makan dapat memengaruhi evolusi manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....