Pentingnya Menstrual Hygiene Management
- 22 Jun 2026 09:37 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Menstrual Hygiene Management atau manajemen kebersihan menstruasi menjadi hal penting yang perlu dipahami remaja perempuan untuk menjaga kesehatan reproduksi. Kebiasaan sederhana seperti cara membasuh area kewanitaan, memilih pembalut yang aman, hingga menjaga area intim tetap kering dinilai berpengaruh besar dalam mencegah infeksi selama masa menstruasi.
Hal itu disampaikan perwakilan Standing Committee on Sexual and Reproductive Health and Rights including HIV and AIDS (SCORA) CIMSA Universitas Jember, Dimas Haidar Nusantara, dalam program Jaga Malam Pro 2 RRI Jember, Jumat (19/6/2026).
Dalam dialog tersebut, Dimas menegaskan bahwa menstruasi bukanlah hal tabu, melainkan proses biologis normal yang harus dibarengi dengan pemahaman kebersihan yang benar. Ia juga meluruskan anggapan keliru di masyarakat yang masih menganggap darah menstruasi sebagai darah kotor.
“Penting untuk diingat bahwa darah menstruasi itu adalah darah yang bersih, bukan darah kotor seperti mitos yang beredar dulu. Siklus normalnya berkisar antara 21 hingga 35 hari, dengan durasi keluarnya darah selama 2 sampai 8 hari. Jika siklus berada di rentang ini, itu tanda tubuh wanita sehat,” ujar Dimas.
Menurutnya, salah satu aspek penting dalam menstrual hygiene adalah cara membersihkan area kewanitaan. Dimas mengimbau agar pembasuhan dilakukan menggunakan air mengalir dari arah depan ke belakang untuk mencegah perpindahan bakteri dari anus ke saluran kemih.
Selain itu, penggunaan pakaian dalam berbahan katun dan penggantian secara rutin juga menjadi bagian dari kebiasaan sehat selama menstruasi. Pakaian yang terlalu ketat dan area kewanitaan yang lembap justru dapat meningkatkan risiko iritasi maupun infeksi.
Dimas juga menekankan pentingnya memilih pembalut yang aman. Ia menyarankan agar perempuan memilih pembalut yang lembut, bersih, dan tidak mengandung bahan tambahan yang berpotensi memicu iritasi, seperti pewangi berlebih, pewarna buatan, maupun zat berbahaya lainnya.
Penggunaan cairan pembersih kewanitaan secara rutin pun tidak dianjurkan. Menurutnya, kebiasaan tersebut justru bisa mengganggu keseimbangan pH alami vagina dan mengurangi bakteri baik yang berfungsi melindungi area reproduksi perempuan.
Jika manajemen kebersihan menstruasi diabaikan, perempuan berisiko mengalami sejumlah gangguan kesehatan seperti infeksi saluran kemih (ISK), vaginosis bakterialis, infeksi jamur, hingga ruam kulit. Karena itu, edukasi mengenai menstrual hygiene tidak boleh berhenti hanya pada pengetahuan dasar tentang menstruasi, tetapi juga harus menyentuh kebiasaan praktis sehari-hari.
Di akhir dialog, Dimas mengajak orang tua, guru, maupun lingkungan sekitar untuk ikut menciptakan ruang yang lebih terbuka dalam membicarakan menstruasi. Menurutnya, dukungan dari lingkungan sangat penting agar remaja perempuan tidak merasa malu atau takut saat mengalami menstruasi pertama maupun ketika menghadapi keluhan selama haid.
“Jangan pernah merasa tabu atau malu lagi membahas soal menstruasi. Bagi para orang tua, temani anak perempuan kita saat mereka mendapatkan menstruasi pertama. Sediakan fasilitas sanitasi yang bersih dan ajak mereka mengobrol santai tanpa rasa canggung. Komunikasi kecil seperti ini berdampak besar bagi kesehatan fisik dan mental mereka di masa depan,” pungkasnya.
Melalui pemahaman menstrual hygiene management yang tepat, remaja perempuan diharapkan dapat menjalani masa menstruasi dengan lebih sehat, nyaman, dan bebas dari stigma.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....