Menuntut untuk Didengar, namun Lupa Cara Mendengarkan
- 09 Jun 2026 09:50 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Di tengah kemudahan akses komunikasi saat ini, fenomena keinginan untuk selalu didengar tanpa dibarengi kemauan untuk mendengarkan menjadi masalah sosial yang kian nyata. Hal ini mengemuka dalam diskusi interaktif program "Jaga Malam" di Pro 2 RRI Jember yang menghadirkan perwakilan dari Forum Anak Jember, Ni Made Devina Prameswari dan Aulia Riski Ari Shafa Salsabila, Sabtu, 6 Juni 2026.
Diskusi tersebut menyoroti bagaimana banyak orang terjebak dalam komunikasi satu arah. Meskipun ruang untuk menyampaikan pendapat kini sangat luas, kemampuan untuk menjadi pendengar yang baik justru semakin langka. Syafa, salah satu narasumber, mengungkapkan bahwa komunikasi yang tidak seimbang sering kali menjadi pemicu utama munculnya konflik dan kesalahpahaman.
"Ketika semua orang ingin didengar tapi tidak ada yang mau mendengar, komunikasi menjadi tidak efektif. Padahal, saat kita mau mendengar dengan sungguh-sungguh, orang lain akan merasa dihargai dan lebih nyaman," ujar Syafa.
Kebiasaan Buruk dalam Berkomunikasi
Banyak orang merasa telah mendengarkan, padahal hanya secara fisik hadir, sementara pikirannya teralihkan ke hal lain, seperti ponsel atau sibuk menyusun jawaban di kepala. Kebiasaan buruk lainnya yang sering terjadi adalah menyela pembicaraan dan terburu-buru memberikan penilaian (judgement) sebelum memahami konteks masalah yang disampaikan lawan bicara.
Menurut Devina, sekretaris Forum Anak Jember, mendengarkan dan memahami adalah dua hal yang berbeda. "Terkadang kita mendengar, tapi tetap memegang prinsip sendiri dan tidak berusaha mengidentifikasi apa yang sebenarnya dialami lawan bicara," jelasnya.
Tips Menjadi Pendengar yang Baik
Para narasumber memberikan panduan sederhana agar masyarakat dapat menjadi pendengar yang lebih baik, di antaranya:
- Diam Sejenak: Berikan jeda sekitar 5 detik sebelum membalas untuk memastikan lawan bicara telah selesai menyampaikan poinnya.
- Berempati: Cobalah memahami perasaan lawan bicara tanpa menghakimi.
- Bertanya Sebelum Berasumsi: Jangan langsung menyimpulkan. Tanyakan maksud atau kebutuhan mereka, apakah mereka sekadar ingin didengarkan atau membutuhkan solusi.
- Tunjukkan Perhatian: Gunakan kontak mata dan gestur yang mendukung agar lawan bicara merasa dihargai.
Penting bagi Kesehatan Mental
Diskusi ini juga menekankan bahwa rasa didengar memiliki dampak besar bagi kesehatan mental. Sering kali, seseorang tidak membutuhkan nasihat panjang lebar, melainkan hanya ruang untuk menumpahkan beban pikiran. Memberikan perhatian sederhana melalui kesediaan untuk mendengarkan dinilai jauh lebih berharga daripada solusi yang diberikan secara terburu-buru.
Di era media sosial yang penuh dengan keriuhan opini, Forum Anak Jember mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam berkomunikasi. "Komunikasi yang baik bukan tentang siapa yang paling banyak bicara, tetapi tentang siapa yang bersedia untuk saling memahami," tutup Devina.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....