Bagaimana Seni Membatasi Diri di Ruang Digital?

  • 08 Jun 2026 14:37 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Fenomena menggulirkan layar gawai tanpa henti atau yang sering dikenal dengan istilah doomscrolling telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat modern saat ini. Banyak individu yang tidak sadar telah menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya hanya untuk melihat unggahan demi unggahan di media sosial. Kebiasaan yang mulanya dianggap sebagai sarana hiburan atau pelepas penat ini, lambat laun dapat berubah menjadi sebuah ketergantungan yang mengikis produktivitas dan fokus dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan informasi yang dikutip dari jurnal ilmiah Computers in Human Behavior tahun 2024 yang ditulis oleh peneliti perilaku digital Dr. Marcus Vance, aktivitas berselancar di media sosial secara berlebihan berkaitan erat dengan penurunan volume abu-abu pada area otak yang mengatur kendali diri. Dalam studi tersebut dipaparkan bahwa paparan informasi yang serbacepat dan tiada habisnya memicu lonjakan dopamin instan yang membuat otak terus menuntut stimulasi serupa. Penelitian ini menegaskan bahwa kebiasaan tersebut dapat memperburuk kualitas tidur dan meningkatkan risiko kecemasan kronis.

Selain berdampak pada kesehatan mental, konsumsi media sosial yang tidak dibatasi juga memicu distorsi persepsi terhadap realitas kehidupan. Pengguna sering kali secara tidak sadar membandingkan keseharian mereka yang biasa saja dengan potongan momen terbaik kehidupan orang lain yang ditampilkan di layar. Pola perbandingan yang tidak sehat ini memicu munculnya perasaan tidak puas, rendah diri, hingga rasa tertinggal atau yang akrab disebut dengan istilah FOMO.

Dampak buruk lainnya juga merambah pada penurunan kemampuan interaksi sosial secara langsung di dunia nyata. Ketika perhatian seseorang sepenuhnya tersedot oleh dunia digital, kualitas komunikasi dengan keluarga, teman, maupun rekan kerja di sekitarnya akan menurun secara drastis. Fenomena mengabaikan orang sekitar demi gawai ini tidak jarang memicu keretakan dalam hubungan interpersonal dan menciptakan rasa terisolasi di tengah keramaian.

Oleh karena itu, mengambil langkah sadar untuk melakukan detoksifikasi digital secara berkala menjadi hal yang sangat krusial demi menjaga keseimbangan hidup. Membatasi waktu layar dengan bantuan aplikasi pengingat atau meluangkan waktu khusus tanpa gawai dapat membantu mengembalikan fokus pikiran. Dengan mengendalikan jempol untuk berhenti menggulirkan layar secara berlebihan, seseorang dapat kembali menikmati momen berharga dan membangun koneksi yang lebih bermakna di dunia nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....