Ancaman Kertas Termal pada Struk Belanja
- 16 Mei 2026 11:54 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Thermal paper atau kertas termal selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari struk belanja, tiket parkir, boarding pass, hingga label pengiriman, semuanya banyak menggunakan jenis kertas ini karena mampu mencetak tulisan tanpa tinta. Namun di balik kepraktisannya, ternyata thermal paper menyimpan persoalan kesehatan yang mulai mendapat perhatian dunia.
Dilansir dari Chemistry World, thermal paper bekerja menggunakan lapisan kimia khusus yang bereaksi terhadap panas. Ketika terkena panas dari mesin pencetak, lapisan tersebut berubah warna sehingga menghasilkan tulisan atau gambar tanpa memerlukan tinta tambahan.
Menurut peneliti dari École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL) di Swiss, Claire Bourmaud, teknologi ini dipilih karena proses cetaknya cepat, praktis, dan minim risiko noda tinta. Thermal paper juga lebih efisien karena tidak membutuhkan penggantian cartridge tinta secara rutin.
Namun, sebagian besar thermal paper konvensional mengandung bahan kimia bernama bisphenol, terutama Bisphenol A (BPA) dan Bisphenol S (BPS). Kedua senyawa ini digunakan sebagai “developer” atau pemicu perubahan warna pada lapisan termal kertas.
Masalahnya, BPA dan BPS diketahui memiliki sifat endocrine disruptor atau pengganggu hormon. Toxicologist dari University of Alabama at Birmingham, Natalie Gassman, menjelaskan kepada Chemistry World bahwa senyawa tersebut dapat mengganggu kerja hormon seperti estrogen, testosteron, hingga hormon tiroid.
Gangguan hormon ini berpotensi memengaruhi kesuburan, metabolisme tubuh, sistem imun, hingga fungsi kognitif. Selain itu, senyawa bisphenol juga dapat menghasilkan molekul yang merusak DNA serta mempercepat penuaan sel melalui pembentukan reactive oxygen species.
Karena risikonya, Uni Eropa dan Inggris sejak 2020 mulai membatasi penggunaan BPA dalam thermal paper dengan kadar maksimal kurang dari 0,02 persen dari total berat kertas. Namun penelitian di Swiss menunjukkan bahwa setelah BPA mulai ditinggalkan, sebagian produsen justru beralih menggunakan BPS yang ternyata juga memiliki potensi risiko kesehatan serupa.
Paparan terbesar biasanya dialami pekerja yang setiap hari bersentuhan langsung dengan thermal paper, seperti kasir, petugas bandara, atau pekerja logistik. Menurut laporan Chemistry World, penggunaan hand sanitizer, lotion, atau krim tangan bahkan dapat meningkatkan penyerapan bisphenol melalui kulit hingga 100 kali lipat.
Di tengah kekhawatiran tersebut, para ilmuwan mulai mengembangkan alternatif thermal paper yang lebih aman. Salah satu inovasi terbaru datang dari tim EPFL yang mengembangkan thermal paper berbasis biomassa dari lignin, material alami yang terdapat pada sel tumbuhan. Teknologi baru ini tetap mempertahankan fungsi thermal paper, tetapi menggunakan senyawa berbasis tumbuhan yang memiliki tingkat toksisitas jauh lebih rendah dibanding BPA maupun BPS.
Selain itu, ada juga teknologi lain bernama Blue4est yang bekerja tanpa reaksi kimia. Sistem ini menggunakan lapisan udara mikro pada permukaan kertas yang akan berubah tampilan saat terkena panas.
Meski begitu, para peneliti mengakui bahwa mencari alternatif thermal paper yang benar-benar aman, ramah lingkungan, dan tetap ekonomis masih menjadi tantangan besar. Menurut Bourmaud, tujuan utama pengembangan teknologi baru ini adalah agar industri tidak perlu mengubah seluruh sistem produksinya, sehingga proses transisi menuju bahan yang lebih aman bisa berlangsung lebih cepat. Meningkatnya kesadaran terhadap risiko bahan kimia pada thermal paper menjadi pengingat bahwa teknologi praktis sehari-hari pun tetap memiliki dampak kesehatan yang perlu diperhatikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....