Looksmaxxing: Tren “Upgrade Wajah” yang Viral, antara Self-Improvement dan Tekanan So

  • 12 Apr 2026 13:58 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Dalam beberapa waktu terakhir, istilah looksmaxxing semakin sering muncul di media sosial. Tren ini mendorong laki-laki, khususnya generasi muda, untuk “mengoptimalkan” penampilan fisik mereka, mulai dari perawatan sederhana hingga perubahan yang cukup ekstrem.

Mengacu pada pembahasan dari Grazia, looksmaxxing bisa dipahami sebagai versi baru dari konsep glow up, namun dengan pendekatan yang lebih teknis dan terstruktur. Jika sebelumnya perubahan penampilan lebih identik dengan gaya atau perawatan dasar, kini wajah dan tubuh dipandang layaknya sesuatu yang bisa “direkayasa”.

Dari perawatan diri hingga modifikasi ekstrem

Dalam praktiknya, looksmaxxing terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu softmaxxing dan hardmaxxing.

Softmaxxing mencakup upaya-upaya yang relatif umum dalam perawatan diri. Misalnya memperbaiki gaya rambut, menjaga pola makan, rutin berolahraga, hingga merawat kulit. Ada pula teknik seperti mewing, yang diklaim dapat membantu membentuk rahang, meskipun efektivitasnya masih diperdebatkan.

Sementara itu, hardmaxxing mengarah pada langkah yang lebih drastis. Termasuk di dalamnya prosedur seperti operasi plastik, penggunaan botox, transplantasi rambut, hingga praktik berisiko lainnya. Dalam beberapa kasus yang disorot oleh Grazia, bahkan muncul tren berbahaya seperti “bone smashing”, yang tidak memiliki dasar ilmiah dan berpotensi menimbulkan cedera serius.

Peran media sosial dalam mempercepat tren

Salah satu faktor utama berkembangnya looksmaxxing adalah algoritma media sosial. Konten transformasi sebelum dan sesudah yang mencolok mudah menarik perhatian, lalu terus direkomendasikan kepada pengguna lain, terutama remaja.

Selain itu, tekanan sosial terhadap penampilan juga semakin meningkat. Masih menurut Grazia, semakin banyak laki-laki yang kini merasa perlu tampil menarik dan rela mengalokasikan lebih banyak waktu maupun biaya untuk perawatan diri.

Namun, di balik narasi self-improvement, terdapat kecenderungan untuk mengukur penampilan secara berlebihan. Istilah-istilah seperti “hunter eyes”, proporsi wajah, hingga penilaian daya tarik atau sexual market value menjadi bagian dari standar yang beredar di komunitas ini.

Dampak terhadap cara pandang diri

Tren ini tidak hanya soal penampilan, tetapi juga berkaitan dengan persepsi diri. Looksmaxxing kerap mendorong individu untuk fokus pada kekurangan fisik, bahkan pada hal-hal yang sebenarnya tidak signifikan.

Dalam sejumlah komunitas online, fenomena ini bisa berkembang menjadi obsesi. Individu terus-menerus membandingkan diri, melakukan “penilaian” terhadap wajahnya sendiri, hingga merasa tidak cukup baik jika tidak memenuhi standar tertentu.

Grazia juga menyoroti bahwa konten looksmaxxing sering kali beririsan dengan ruang digital lain yang memiliki pandangan sempit tentang maskulinitas. Hal ini berpotensi memperkuat tekanan psikologis, terutama pada remaja laki-laki.

Antara kebutuhan dan kewaspadaan

Pada dasarnya, merawat diri dan ingin tampil lebih baik merupakan hal yang wajar. Namun, looksmaxxing menunjukkan bagaimana batas antara self-care dan tekanan sosial bisa menjadi kabur.

Seperti disimpulkan dalam pembahasan Grazia, masalah utama dari tren ini bukan sekadar keinginan untuk memperbaiki penampilan, melainkan cara penampilan tersebut dijadikan tolok ukur utama nilai diri seseorang.

Dalam konteks ini, penting untuk tetap kritis. Perawatan diri seharusnya bertujuan meningkatkan kenyamanan dan kepercayaan diri, bukan justru menciptakan standar yang sulit dicapai dan berpotensi merugikan secara fisik maupun mental.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....