Kenapa Ada Orang Makan Banyak tapi Tetap Langsing?

  • 04 Apr 2026 11:29 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID. Pernah kah Anda merasa heran, melihat orang yang bisa menyantap nasi goreng lengkap dengan dessert, tetapi bentuk tubuhnya tetap ramping? Sementara sebagian orang lain merasa makan sedikit saja sudah membuat jarum timbangan bergeser naik. Hal ini kerap memunculkan anggapan bahwa ada orang yang "kebal gemuk".

Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, Subsp.K.M dari RS Cipto Mangunkusumo menjelaskan bahwa perbedaan berat badan antarindividu dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik, metabolisme, dan gaya hidup. meski secara umum gen manusia hampir 99,9 persen sama, terdapat perbedaan kecil yang disebut polimorfisme gen.

Perbedaan inilah yang membuat respons tubuh setiap orang terhadap makanan dan aktivitas fisik menjadi tidak sama.

“Ada orang dengan usia, pola makan, dan aktivitas fisik yang mirip, tetapi berat badannya berbeda. Salah satu penyebabnya adalah perbedaan gen yang memengaruhi kecepatan metabolisme,” ujar dr. Fiastuti, dikutip dari siaran langsung bersama Kemenkes, Sabtu (20/12/2025)

Gen tertentu dapat memengaruhi resting metabolic rate, yakni kebutuhan energi dasar tubuh saat istirahat. Orang dengan metabolisme lebih cepat cenderung membakar kalori lebih efisien, sehingga berat badannya relatif stabil meski asupan makan cukup banyak. Sebaliknya, orang dengan metabolisme lebih lambat lebih mudah mengalami kelebihan energi yang akhirnya disimpan sebagai lemak.

Gen tidak bisa diubah, gaya hidup bisa disesuaikan

Meski gen bersifat bawaan sejak lahir dan tidak dapat diubah, dr. Fiastuti menekankan bahwa kondisi ini bukan berarti seseorang “pasrah” pada nasib berat badannya.

"Kalau seseorang tahu metabolisme dasarnya lebih lambat, maka asupan makan perlu diatur atau aktivitas fisik ditingkatkan agar tidak terjadi kelebihan kalori," jelasnya.

Kurus belum tentu sehat, gemuk belum tentu tidak sehat

Hal penting lain yang sering luput dari perhatian adalah anggapan bahwa kurus selalu identik dengan sehat. Menurut dr. Fiastuti, kondisi kesehatan tidak bisa dinilai hanya dari angka timbangan.

"Kita perlu melihat komposisi tubuh, yaitu berapa persen lemak dan berapa persen massa otot," ujarnya. Seseorang bisa saja terlihat kurus, tetapi memiliki massa otot yang rendah dan persentase lemak yang tinggi. Kondisi ini dikenal sebagai sarkopenia, yang dapat berdampak pada daya tahan tubuh, mudah lelah, hingga risiko jatuh di usia lanjut. Sebaliknya, ada pula orang dengan tubuh besar, tetapi massa ototnya tinggi, seperti atlet atau binaragawan yang justru memiliki kondisi fisik lebih bugar.

Fenomena orang yang makan banyak tetapi tetap langsing tidak bisa disederhanakan sebagai soal “beruntung” atau “tidak menjaga diri”. Ada faktor genetik yang memengaruhi metabolisme, tetapi gaya hidup tetap memegang peran besar. Karena itu, dr. Fiastuti mengingatkan agar masyarakat tidak membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain. Setiap tubuh memiliki kebutuhan dan respons yang berbeda. Menurutnya, yang terpenting adalah menyesuaikan pola makan dan aktivitas fisik dengan kondisi tubuh masing-masing.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....