Apakah Otak Kita Bisa Kehabisan Memori?

  • 20 Mar 2026 18:26 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID. Jember- Kita semua pernah merasakannya—kepala terasa penuh saat belajar menjelang ujian, atau otak terasa buntu setelah lembur menyelesaikan pekerjaan. Tapi benarkah otak manusia bisa "penuh", seperti memori ponsel atau hard drive komputer yang kehabisan ruang? Menurut para ahli saraf, jawabannya adalah tidak.

Kapasitas memori otak manusia, dalam kondisi sehat, tidak tetap dan sangat sulit untuk benar-benar habis. “Tidak ada batasan yang bermakna terhadap seberapa banyak informasi yang bisa disimpan oleh otak,” kata Elizabeth Kensinger, profesor psikologi dan ilmu saraf di Boston College.

Cara Otak Menyimpan Memori: Bukan Seperti Folder Komputer

Berbeda dengan komputer yang menyimpan file dalam folder tertentu, otak kita menyimpan memori melalui pola yang tersebar luas. Satu ingatan disimpan dalam jaringan neuron yang saling terhubung, yang disebut engram. Ini artinya, satu neuron bisa ikut serta dalam banyak memori berbeda, bukan hanya satu.

Bayangkan ulang ulang tahun ke-12 Anda. Warna balon, rasa kue, suara teman menyanyi, dan perasaan bahagia—semuanya disimpan oleh bagian otak yang berbeda: korteks visual, korteks pengecap, sistem pendengaran, hingga pusat emosi. Semua bagian ini aktif bersamaan dalam pola tertentu, dan pola itulah yang membentuk memori. Ketika Anda mengingatnya kembali, otak mengaktifkan ulang pola tersebut.

“Memori digunakan otak untuk memahami saat ini, memprediksi masa depan, dan membantu proses belajar di kemudian hari,” jelas Kensinger.

Karena neuron dapat berpartisipasi dalam banyak kombinasi memori, otak bisa menyimpan jumlah memori yang sangat besar, bahkan secara teoritis tidak terbatas. Jika sebagian kecil neuron rusak, ingatan masih bisa diselamatkan karena disimpan di banyak tempat.

Kalau Begitu, Kenapa Kita Tidak Mengingat Segalanya?

Jika kapasitas memori otak nyaris tak terbatas, mengapa kita sering lupa sesuatu? Menurut Paul Reber, profesor ilmu saraf dari Northwestern University, itu karena sistem memori otak jauh lebih lambat dibandingkan kecepatan informasi masuk.

“Bayangkan otak seperti kamera video yang hanya bisa merekam 10% dari apa yang terjadi,” ujar Reber. Dengan kata lain, kita hanya mampu menyimpan sebagian kecil dari semua pengalaman dan kejadian yang kita alami setiap hari. Informasi yang akhirnya masuk ke memori jangka panjang harus melalui proses yang disebut konsolidasi, yaitu penguatan ingatan agar menjadi lebih tahan lama. Di sinilah letak tantangan sebenarnya—bukan di kapasitas penyimpanan, tetapi pada proses penyimpanannya.

Mengapa Kita Menyimpan Sebagian, dan Melupakan Sebagian?

Setiap detik, otak kita dibanjiri informasi dari semua indera. Namun, otak tidak didesain untuk menyimpan semuanya.

“Sistem memori kita tidak berevolusi untuk mengingat dengan sempurna,” kata Lila Davachi, profesor psikologi dan ilmu saraf dari Columbia University. “Memori berkembang demi kelangsungan hidup, bukan demi nostalgia.”

Kita cenderung menyimpan informasi yang penting secara fungsional dan adaptif, seperti informasi yang berguna untuk bertahan hidup, membuat keputusan, atau mengenali pola. Bahkan, kemampuan kita untuk bernostalgia tentang masa kuliah, menurut Davachi, mungkin hanyalah "bonus" dari kemampuan otak yang sebenarnya tidak kita perlukan secara biologis.

Otak Menyimpan Pola, Bukan Detail Kecil

Otak kita juga cerdas dalam menyimpan memori. Ketika kita sering mengalami hal yang mirip berulang kali, otak cenderung menyimpan esensi atau pola umum, bukan setiap detailnya.

“Otak akan menyimpan rincian hanya jika ada sesuatu yang benar-benar berbeda,” jelas Kensinger.

Misalnya, Anda mungkin tidak ingat perjalanan rutin ke kantor setiap hari, tapi akan mengingat saat jalanan banjir atau hampir mengalami kecelakaan. Ini adalah contoh bagaimana otak menghemat ruang dan energi dengan menyimpan informasi secara efisien.

Jadi, tidak perlu khawatir otak kehabisan ruang saat lupa meletakkan gelas kopi. Kemungkinan besar, otak hanya memprioritaskan hal yang lebih penting untuk diingat. Otak manusia adalah mesin luar biasa yang tidak hanya menyimpan memori, tetapi juga mengolahnya untuk membantu kita beradaptasi, belajar, dan membuat prediksi tentang dunia di sekitar.

“Kapasitas memori bukanlah batasan utama,” kata Reber. “Yang menjadi tantangan adalah bagaimana otak memilih dan menyimpan informasi itu.”

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....