Mengapa Kita Merinding saat Takut atau Terkejut?
- 21 Feb 2026 14:57 WIB
- Jember
RRI.CO,ID. Jember- Pada dasarnya, merinding adalah warisan dari masa ketika manusia masih berbulu lebat seperti mamalia lain. Pada hewan, merinding berguna untuk menahan panas tubuh dengan menjebak udara di antara rambut, atau membuat tubuh tampak lebih besar saat menghadapi ancaman. Namun pada manusia, merinding juga bisa muncul karena emosi — bukan hanya karena dingin.
Secara ilmiah, merinding disebut piloereksi. Proses ini terjadi ketika otot kecil di kulit yang disebut arrector pili muscles (APM) berkontraksi. APM terhubung dengan folikel rambut di kulit. Saat otot ini berkontraksi karena sinyal dari sel saraf, rambut kita tertarik ke atas, membentuk tonjolan kecil di permukaan kulit. Dengan kata lain, saraf memberi perintah, otot menegang, rambut berdiri, dan muncullah merinding.
Otak yang Memicu Merinding
Sinyal saraf yang memicu reaksi ini berasal dari sistem saraf otonom, bagian tubuh yang juga mengatur respons fight-or-flight (melawan atau lari). Sistem ini membantu tubuh beradaptasi terhadap lingkungan: melepaskan hormon epinefrin (adrenalin), mengatur aliran darah dan oksigen, hingga membuat tubuh berkeringat saat suhu naik.
Menurut Jonathon McPhetres, peneliti independen yang meneliti piloereksi di Universitas Durham, “Kita sebenarnya sering merinding, tapi jarang menyadarinya.”
Menonton film horor atau mendengar cerita menegangkan, misalnya, bisa memicu reaksi yang sama dengan ancaman nyata. Bagi otak, melihat pembunuh bersenjata di layar tak jauh beda dari dikejar di dunia nyata. Menariknya, merinding juga bisa muncul pada momen yang tak menakutkan sama sekali — seperti saat mendengarkan musik yang indah, mengalami déjà vu, atau momen spiritual yang mendalam.
Baik karena udara dingin atau karena musik yang menggugah, jenis merinding yang muncul di kulit kita sebenarnya sama. Kulit manusia adalah organ yang hidup dan aktif — selalu menyesuaikan diri: meregang, menebal, menipis, dan bahkan mengatur rambut untuk menjaga suhu tubuh. Saat sensor di kulit menangkap perubahan lingkungan — entah suhu yang turun atau adegan menyeramkan — otak memberi pesan yang sama: “Ada sesuatu yang bisa memengaruhi tubuhmu. Bersiaplah.”
Walau efeknya lebih terlihat pada hewan berbulu tebal, manusia tetap menunjukkan respons fisiologis ini. McPhetres menekankan bahwa merinding tidak sepenuhnya sisa evolusi dari masa lalu, karena masih berkaitan dengan pengaturan suhu tubuh.
Jika, misalnya, kita menempelkan es di paha, perubahan suhu itu bisa memicu merinding di area lain tubuh juga. Sementara merinding karena geli biasanya hanya terjadi secara lokal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....