Kurang Tidur Bisa Mempercepat Kerusakan Jantung

  • 30 Jan 2026 18:39 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Menurut Dr. Beverly J. Fang, dokter spesialis psikiatri dan pengobatan tidur di University of Maryland Medical Center, kurang tidur kronis berkaitan erat dengan peningkatan tekanan darah. “Risikonya lebih tinggi pada durasi tidur yang sangat pendek, kurang dari lima jam per malam. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan ini bisa lebih kuat pada perempuan,” jelasnya, disadur Parade, Senin (26/1/2026).

Saat seseorang kurang tidur, sistem saraf simpatik atau respons “fight, flight, freeze” menjadi lebih aktif. Akibatnya, denyut jantung dan tekanan darah meningkat secara terus-menerus.

Fang menjelaskan, kurang tidur juga meningkatkan kadar kortisol, hormon stres yang berperan besar dalam naiknya tekanan darah. “Normalnya, tekanan darah akan turun saat kita tidur. Jika waktu tidur tidak cukup, proses ini terganggu dan tekanan darah tetap tinggi lebih lama,” katanya.

Sementara itu, seorang kardiolog dan pendiri Natural Heart Doctor, Dr. Jack Wolfson menambahkan, kualitas tidur yang buruk menurunkan fungsi endotelium, lapisan tipis pembuluh darah yang berperan penting dalam menjaga kelenturan arteri. “Pembuluh darah kehilangan kemampuan memproduksi nitric oxide sehingga menjadi lebih kaku dan sulit rileks. Dalam jangka panjang, ini meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan gagal jantung,” Lebih jauh lagi, kondisi tersebut membuat plak yang sudah ada menjadi tidak stabil.

“Plak yang tidak stabil berisiko pecah secara tiba-tiba, dan inilah pemicu paling umum serangan jantung,” tambah Wolfson. Selain itu, kurang tidur mengacaukan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Fang menyebut gangguan ritme ini menyebabkan pola tekanan darah menjadi tidak normal serta mengacaukan metabolisme.

Semua proses tersebut berkontribusi pada penuaan biologis jantung yang lebih cepat, bahkan bisa melampaui dampak merokok. “Merokok memang racun kuat bagi jantung, tetapi kurang tidur kronis adalah pengacau sistem tubuh secara menyeluruh,” ungkap dia. Kondisi ini memicu peradangan, ketidakseimbangan hormon, gangguan metabolisme, hingga mempercepat penuaan biologis.

Dampak kurang tidur tidak berhenti pada tekanan darah dan pembuluh darah. Kebiasaan ini juga memengaruhi berat badan, yang menjadi faktor risiko besar penyakit jantung.

Fang menilai, kurang tidur meningkatkan hormon ghrelin yang merangsang rasa lapar, sekaligus menurunkan leptin yang memberi sinyal kenyang. Akibatnya, seseorang lebih mudah merasa lapar dan cenderung mengonsumsi makanan tinggi kalori, lemak, dan karbohidrat.

Kurang tidur juga mengganggu sensitivitas insulin, sehingga meningkatkan risiko diabetes. Kondisi ini semakin memperbesar beban kerja jantung. Wolfson menambahkan, ketika tubuh lelah, motivasi untuk bergerak dan berolahraga pun menurun. Pola ini membuat risiko obesitas semakin tinggi, yang pada akhirnya mempercepat kerusakan jantung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....