Mengenal Istilah Latah, Penyakit Atau Sekedar Kebiasaan ?
- 26 Jun 2025 08:50 WIB
- Jember
KBRN, Jember : Pernahkah Anda melihat seseorang tiba-tiba menirukan ucapan atau gerakan orang lain secara spontan, bahkan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh, seolah tanpa kendali? Fenomena ini, yang dikenal sebagai latah, adalah sindrom budaya yang paling sering ditemukan di Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara lainnya. Meski seringkali dianggap lucu atau bahan lelucon, latah merupakan kondisi kompleks yang menarik perhatian banyak peneliti.
Dilansir dari laman halodoc.com, penyakit latah atau yang bisa juga disebut dengan echopraxia adalah kondisi yang ditandai dengan pengulangan secara tidak sengaja dari perilaku atau gerakan orang lain. Pengidap kondisi ini sangat mungkin meniru kegelisahan, gaya berjalan, atau bahasa tubuh orang lain yang ada di hadapannya.Latah kerap dihubungkan dengan kondisi psikologi seseorang. Latah digolongkan sebagai possession trance disorder, yaitu suatu kondisi penggantian identitas personal menjadi identitas baru, yang ditunjukkan lewat perubahan perilaku. Latah juga disebut sebagai upaya menarik perhatian atau ingin menjalin pertemanan.
Walaupun belum banyak penjelasan yang pasti tentang penyakit latah, tetapi dapat disimpulkan bahwa kondisi tersebut merupakan gejala psikologis yang berhubungan dengan budaya. Jenis penyakit latah sendiri terdiri dari empat jenis, dengan karakter yang berbeda dari masing-masing:
- Ekolalia : Reaksi latah dengan mengulangi perkataan orang lain disebut juga dengan ekolalia. Penyebab terjadinya ekolalia adalah karena sistem indra yang dimiliki pengidap latah, terutama mata, mulut, dan telinganya mengalami gangguan. Biasanya pengidap tidak bisa mengontrol reaksinya tersebut.
- Ekopraksia : Jika ekolalia mengulangi perkataan orang lain, ekopraksia adalah reaksi latah yang menirukan gerakan orang lain. Latah jenis ekopraksia dianggap lebih parah dari ekolalia karena sudah melibatkan perilaku orang yang memiliki latah tersebut. Kondisi ini bisa membahayakan seseorang.
- Koprolalia : Koprolalia adalah kondisi dimana pengidap mengeluarkan kata-kata yang dianggap tabu atau kotor sebagai reaksi latahnya. Biasanya orang dengan jenis latah ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sebagian orang juga menjadikan latah koprolalia sebagai bahan candaan.
- Automatic obedience : Kondisi latah ini bisa dibilang cukup berbahaya. Orang yang memiliki latah jenis tersebut dapat melaksanakan perintah yang disampaikan orang lain secara spontan. Meskipun perintah yang diberikan berbahaya, bukan tidak mungkin dia akan tetap melakukan perintah tersebut.
Pada beberapa kasus, anak muda lebih berisiko terkena latah akibat lingkungan pergaulan yang dimiliki. Intensitas dan tingkat keparahan dari gejala umumnya akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Respons latah juga bisa dipengaruhi oleh kondisi fisik, seperti kelelahan, stres, atau emosi yang tidak stabil. Sedangkan seberapa sering seseorang terkejut pun dapat memengaruhi intensitas dan tingkat keparahan latah. Gangguan ini dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari pengidapnya. Apalagi latah sering kali dipancing karena dianggap lucu dan menghibur.
Penyakit latah dikaitkan dengan kondisi yang berhubungan dengan psikologis dan perilaku seseorang. Kondisi tersebut dapat diatasi dengan melakukan terapi perilaku, seperti :
- Cognitive Behaviour Therapy : Terapi ini bisa menjadi cara untuk menghilangkan latah, yaitu dengan membantu mengubah cara berpikir pengidap.
- Behaviour Therapy : Terapi ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan seseorang untuk menahan atau tidak mengeluarkan reaksi latah jika dikagetkan.
- Hypnotherapy : Terapi ini dinilai paling ampuh, yang dilakukan dengan menggunakan sugesti untuk memodifikasi perilaku, sikap, dan kebiasaan disfungsional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....