ITS Mandala Bantu AIKO Craft Banyuwangi Olah Serbuk Kayu Jadi Wood Pellet

  • 06 Okt 2026 15:36 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Tumpukan serbuk kayu mungkin terlihat seperti limbah yang tidak lagi memiliki nilai. Namun, di tangan pengrajin AIKO Craft Banyuwangi, sisa proses produksi tersebut justru mulai dilihat sebagai peluang.

Setiap hari, aktivitas produksi kerajinan berbahan kayu menghasilkan serbuk kayu dalam jumlah cukup besar. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah ini dapat menumpuk di sekitar area produksi, menghasilkan debu kayu, bahkan berpotensi mencemari udara apabila dibakar secara konvensional.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), limbah tersebut kini diarahkan untuk diolah menjadi wood pellet, bahan bakar biomassa yang dapat menjadi salah satu alternatif energi terbarukan.

Program bertajuk “Model PKM Berkelanjutan: Pengolahan Limbah Serbuk Kayu Menjadi Wood Pellet Berbasis Green Technology yang Ramah Lingkungan di AIKO Craft Banyuwangi” ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga mendorong terciptanya nilai ekonomi baru bagi masyarakat.

Ketua Pengabdian, Muhdar, mengatakan program ini tidak hanya berfokus pada pemanfaatan limbah, tetapi juga bagaimana teknologi dapat memberikan nilai tambah bagi mitra dan masyarakat sekitar.

“Kami ingin limbah serbuk kayu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi bisa dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan,” ujar Muhdar, Selasa 6 Oktober 2026.

Pengolahan dilakukan dengan dukungan teknologi tepat guna. Salah satunya melalui pembuatan mesin penghancur kayu untuk mempersiapkan bahan baku, serta rotary dryer yang digunakan dalam proses pengeringan wood pellet.

Teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam mengubah sisa produksi menjadi produk yang lebih bermanfaat. Dengan pendekatan green technology, limbah biomassa yang sebelumnya kurang termanfaatkan dapat kembali masuk ke dalam rantai produksi.

Tidak berhenti pada aspek teknologi, program ini juga memberikan pelatihan dan pendampingan kepada mitra. Masyarakat diberikan pengetahuan mengenai proses produksi, pemanfaatan limbah kayu, hingga pemasaran produk.

Pelatihan digital marketing juga menjadi bagian dari program agar produk yang dihasilkan tidak hanya berhenti di tingkat produksi, tetapi dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui berbagai kanal pemasaran digital.

Muhdar menambahkan, keberlanjutan program menjadi salah satu perhatian utama. Karena itu, kegiatan tidak berhenti pada pembuatan alat dan produksi wood pellet, tetapi dilanjutkan dengan pelatihan serta pendampingan kepada mitra.

“Harapannya, teknologi yang diterapkan tidak berhenti setelah program selesai. Mitra bisa mengoperasikan, mengembangkan, dan memanfaatkan hasil inovasi ini secara mandiri sehingga memberikan dampak ekonomi dalam jangka panjang,” katanya.

Bagi AIKO Craft, pemanfaatan limbah menjadi peluang untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkuat prinsip produksi yang lebih ramah lingkungan.

Serbuk kayu yang sebelumnya dianggap sebagai sisa produksi kini memiliki potensi untuk menghasilkan nilai tambah. Selain wood pellet, pemanfaatan limbah kayu juga dapat dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif seperti plakat, kaligrafi, hingga hiasan dinding.

Dari sisi masyarakat, program ini membuka peluang untuk meningkatkan keterampilan dan menciptakan sumber pendapatan baru. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga didorong untuk terlibat dalam proses produksi dan pengembangan usaha.

Lebih jauh, pemanfaatan limbah kayu menjadi biomassa turut mendukung upaya mengurangi jumlah limbah yang dibuang atau dibakar. Konsep ini sekaligus memperkenalkan pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan dengan mengoptimalkan kembali material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Sejumlah tahapan program telah dilaksanakan, mulai dari sosialisasi kepada mitra, pembuatan mesin penghancur kayu, pembuatan rotary dryer, pelatihan pemasaran, hingga pelatihan dan pendampingan produksi.

Tahap berikutnya diarahkan pada penjualan produk inovasi, pembuatan video kegiatan, serta penyelesaian publikasi artikel ilmiah sebagai bagian dari luaran program.

Pengabdian kepada Masyarakat ini didanai dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Program ini dilaksanakan melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, khususnya Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, dengan mendorong penerapan teknologi tepat guna, prinsip green technology, serta pemanfaatan sumber daya biomassa secara berkelanjutan.

Melalui inovasi tersebut, AIKO Craft Banyuwangi menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Dari serbuk kayu yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, muncul peluang untuk menciptakan energi alternatif, meningkatkan keterampilan masyarakat, sekaligus membuka nilai ekonomi baru.

Limbah yang dahulu berakhir sebagai tumpukan atau asap pembakaran, kini memiliki kesempatan untuk kembali bernilai bagi usaha, masyarakat, dan lingkungan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....