SMA 2 Bondowoso Olah Bunga Telang Jadi Minuman Berkhasiat

  • 13 Sep 2026 11:08 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Bondowoso - SMA Negeri 2 Bondowoso mengembangkan bunga telang menjadi minuman herbal bernama ATENA atau Antioksidan Telang Nusantara Alami melalui program Sekolah Ketahanan Pangan. Inovasi tersebut menjadi bagian dari kegiatan kokurikuler yang mendorong siswa memanfaatkan tanaman yang tersedia di lingkungan sekolah menjadi produk kreatif.

Kepala SMA Negeri 2 Bondowoso, Kholifah Nur Azizah, mengatakan program Sekolah Ketahanan Pangan merupakan program yang diturunkan dari pemerintah pusat melalui Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Jawa Timur.

“Namanya Sikap Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan. Salah satunya adalah bunga telang,” kata Kholifah, Minggu, 13 September 2026.

Menurutnya, tanaman bunga telang di lingkungan sekolah cukup banyak sehingga dimanfaatkan dalam kegiatan kokurikuler. Para siswa diminta mencari manfaat bunga telang sekaligus mengembangkan kreativitas dengan mengolahnya menjadi berbagai produk.

Dalam puncak tema kokurikuler, siswa menghasilkan sejumlah olahan berbahan bunga telang, di antaranya nasi berwarna ungu dan minuman cendol. Setiap kelas juga memiliki produk unggulan yang kemudian dipamerkan di lingkungan sekolah.

Salah satu inovasi yang terus dikembangkan adalah ATENA. Minuman tersebut dibuat dari bunga telang sebagai bahan utama yang dipadukan dengan kayu manis, jeruk lemon, dan madu.

“ATENA itu kepanjangan dari Antioksidan Telang Nusantara Alami. Kenapa alami? Karena bahannya memang herbal,” ujarnya.

Kholifah menegaskan, minuman ATENA yang diproduksi SMA Negeri 2 Bondowoso tidak menggunakan bahan pengawet. Produk tersebut sementara dibuat secara manual dan masih diperuntukkan bagi tamu sekolah maupun kegiatan internal.

“Ini enggak ada pengawetnya,” tuturnya.

Produksi ATENA hingga kini masih terbatas karena proses pembuatannya dilakukan secara manual. Selain siswa, guru dan tenaga tata usaha turut membantu proses produksi karena keterbatasan waktu siswa.

Produk tersebut bahkan telah disuguhkan kepada sejumlah tamu, termasuk rombongan UNESCO Ijen Geopark. Testimoni terhadap produk itu juga disebut telah datang dari sejumlah tamu dari luar negeri.

Meski belum dipasarkan secara umum, pihak sekolah berencana melakukan pengujian lebih lanjut serta mengurus legalitas produk. Sekolah juga berencana berkoordinasi dengan Diskoperindag agar produk tersebut dapat dikembangkan dan dipatenkan.

“Kita mau uji labkan. Kita mau ke Diskoperindag untuk kita buat produk ini, mau kita patenkan juga,” kata Kholifah.

Selain minuman, SMA Negeri 2 Bondowoso juga berencana mengembangkan bunga telang menjadi produk teh. Namun, pengembangan tersebut masih berada pada tahap perencanaan dan lebih diarahkan sebagai bagian dari kreativitas serta pembelajaran siswa.

Kholifah menjelaskan, ide pengolahan bunga telang bermula ketika siswa diminta mencari informasi mengenai manfaat tanaman tersebut. Dari proses itu, siswa mengenal bunga telang sebagai tanaman herbal yang mengandung antioksidan.

“Dia tahu bahwa ini juga untuk herbal. Diabet. Kemudian antioksidannya tinggi. Kemudian menghilangkan sakit persendian,” ungkapnya.

Namun, Kholifah menekankan bahwa manfaat tersebut masih perlu dibuktikan melalui penelitian dan uji laboratorium. Karena itu, siswa diarahkan membuat karya tulis dan melakukan penelitian untuk mempersiapkan keikutsertaan dalam Olimpiade Penelitian Indonesia (OPSI) serta Festival Kewirausahaan Indonesia (PIKSI).

Menurutnya, penelitian nantinya akan melibatkan pengujian secara saintifik dan kemungkinan kerja sama dengan pihak yang bergerak di bidang herbal. Hal itu dilakukan agar klaim manfaat bunga telang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Selain bunga telang, program Sekolah Ketahanan Pangan di SMA Negeri 2 Bondowoso juga memanfaatkan lahan terbatas di lingkungan sekolah untuk menanam sejumlah tanaman pangan. Sekolah sebelumnya juga telah mengembangkan budidaya lele dan kangkung dalam ember dengan pendampingan Dinas Pertanian.

Kholifah mengatakan keterbatasan lahan tidak menjadi alasan bagi sekolah untuk berhenti mengembangkan program ketahanan pangan. Berbagai inovasi dilakukan dengan memanfaatkan ruang yang tersedia sekaligus mengajarkan siswa tentang pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah.

“Kita kan nggak punya lahan yang luas. Lahan kita terbatas, tapi kita tidak menyerah dengan sekolah ketahanan pangan,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....