Satelit yang Terus Bertambah Ancam Pengamatan Astronomi

  • 31 Agt 2026 08:23 WIB
  •  Jember
Poin Utama
  • Antariksa
  • Satelit
  • Penelitian Luar Angkasa

RRI.CO.ID, Santiago: Bertambahnya jumlah satelit di orbit Bumi berpotensi mengganggu kemampuan para astronom mengamati alam semesta. Studi European Southern Observatory (ESO) memperingatkan, rencana peluncuran jutaan satelit dapat memberikan dampak signifikan terhadap penelitian astronomi.

Seperti disebutkan dalam artikel Reuters (20-8-2026), studi yang diterbitkan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics itu menemukan, berbagai proposal yang ada saat ini memungkinkan lebih dari 1,7 juta satelit ditempatkan di orbit. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan sekitar 15.000 satelit yang saat ini mengorbit Bumi.

Masalah utama muncul ketika cahaya yang dipantulkan satelit melintas di bidang pandang teleskop. Jejak cahaya tersebut dapat muncul sebagai garis terang dalam gambar astronomi dan menutupi sebagian objek yang sedang diamati.

Astronom ESO sekaligus penulis studi, Olivier Hainaut, menjelaskan dampaknya. “Setiap satelit ini, ketika melintasi bidang pandang teleskop, meninggalkan garis terang,” ujar astronom ESO Olivier Hainaut.

Menurut Hainaut, satu garis cahaya mungkin hanya menjadi gangguan kecil. Namun, ketika jumlahnya semakin banyak, dampaknya dapat menjadi jauh lebih serius karena setiap jejak cahaya menghapus sebagian informasi dari pandangan teleskop.

Puluhan hingga Ratusan Ribu Satelit

Industri satelit global berkembang pesat sejak 2019. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong oleh layanan internet berbasis satelit, termasuk Starlink milik SpaceX dan Leo milik Amazon.

Para peneliti menggunakan simulasi yang dilakukan di Paranal Observatory, Chile, yang berada di kawasan Gurun Atacama. Salah satu model penelitian menguji kondisi ketika sebuah konstelasi memiliki hingga satu juta satelit.

Simulasi menunjukkan ribuan objek yang diterangi Matahari dapat terlihat di atas Very Large Telescope (VLT) ESO sesaat setelah Matahari terbenam.

Hainaut mengatakan tingkat gangguan sangat bergantung pada jumlah dan tingkat kecerahan satelit. Jika jumlahnya 100 ribu, tingkat gangguannya masih dapat ditoleransi.” ujarnya.

Namun, situasinya dapat berubah drastis ketika jumlah satelit mencapai ratusan ribu. Menurut Hainaut, jika terdapat sekitar 300.000 satelit, beberapa teleskop berpotensi kehilangan sebagian besar data pengamatannya.

Dilema antara Internet dan Ilmu Pengetahuan

Meski mengkhawatirkan dampaknya terhadap astronomi, para peneliti tidak mengabaikan manfaat layanan internet berbasis satelit. Teknologi tersebut dapat memperluas akses komunikasi dan internet ke berbagai wilayah.

Karena itu, persoalan utamanya bukan semata-mata menghentikan perkembangan industri satelit, melainkan mencari keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kepentingan penelitian ilmiah.

Hainaut menilai, penelitian mengenai dampak konstelasi satelit membutuhkan waktu, sementara peluncuran satelit terus berlangsung. “Masalahnya adalah penelitian semacam ini membutuhkan waktu, tetapi satelit-satelit tersebut sudah terus diluncurkan.”

Temuan tersebut menjadi peringatan bagi industri antariksa bahwa pertumbuhan jumlah satelit perlu diimbangi dengan upaya melindungi kemampuan manusia untuk mengamati langit malam dan mempelajari alam semesta.

Jika jumlah satelit terus meningkat tanpa pengelolaan yang memadai, jejak cahaya yang memenuhi gambar teleskop bukan lagi sekadar gangguan visual, tetapi dapat menjadi ancaman terhadap kualitas data ilmiah yang digunakan untuk memahami kosmos.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....