Rumah Sakit di Inggris Gunakan AI untuk Deteksi Dini Infeksi Pasien

  • 07 Jul 2026 13:51 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Inggris: Sebuah rumah sakit di wilayah Kent, Inggris, menjadi rumah sakit pertama dalam jaringan National Health Service (NHS) yang memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk membantu mendeteksi risiko infeksi pada pasien sejak tahap paling awal.

Seperti dilansir dari BBC(3-7-2026), East Kent Hospitals NHS Trust mulai menggunakan teknologi bernama MEMORI di Kent and Canterbury Hospital. Sistem ini menganalisis data klinis yang sudah tersedia dalam rekam medis pasien, seperti hasil tes darah, tekanan darah, suhu tubuh, penggunaan obat, hingga data demografis. Berdasarkan informasi tersebut, AI menghasilkan skor risiko yang menunjukkan kemungkinan seorang pasien mengalami infeksi bahkan sebelum gejalanya muncul.

Teknologi MEMORI dikembangkan melalui kerja sama antara East Kent Hospitals NHS Trust dengan perusahaan teknologi kesehatan asal Inggris, Sanome. Dalam proses pengembangannya, para dokter, perawat, terapis, dan tenaga kesehatan lainnya turut dilibatkan agar sistem benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelayanan di rumah sakit.

Manajer bangsal, Julie Jones, menegaskan bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan tenaga medis. Menurutnya, teknologi ini justru membantu para tenaga kesehatan bekerja lebih efektif sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi pasien. "Teknologi ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggantikan tenaga kesehatan. AI hanya berfungsi sebagai alat pendukung." Ia menambahkan, "Ini akan menjadi situasi yang saling menguntungkan. Baik bagi pasien, baik untuk proses rehabilitasi mereka, maupun bagi kelancaran pelayanan rumah sakit secara keseluruhan. Jadi, dampaknya hanya akan membawa hal-hal yang positif." katanya.

Jones juga menjelaskan bahwa sistem MEMORI menghasilkan skor yang menunjukkan tingkat risiko infeksi pasien sebelum tanda-tanda infeksi benar-benar terlihat. Dengan demikian, tenaga medis dapat mengambil langkah penanganan lebih dini.

Sementara itu, Chief Clinical Information Officer East Kent Hospitals NHS Trust, Dr. Mike Bedford, menyebut penerapan AI ini baru merupakan langkah awal dalam transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus dikembangkan sehingga AI mampu membantu mendeteksi lebih banyak kondisi medis di masa mendatang.

Ia juga menegaskan bahwa manfaat terbesar AI bukan sekadar meningkatkan kemampuan analisis data, melainkan mengembalikan fokus tenaga kesehatan kepada tugas utamanya. "Teknologi ini memungkinkan para tenaga medis kembali melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan, yaitu merawat pasien, bukan menghabiskan waktu untuk pekerjaan administratif dan berinteraksi dengan sistem digital maupun teknologi informasi," ujarnya.

Pendiri Sanome, Benedikt van Thüngen, mengatakan inspirasi mengembangkan teknologi tersebut muncul setelah ayahnya mengalami sepsis, infeksi serius yang dapat mengancam jiwa apabila terlambat ditangani."Orang-orang memilih bekerja di bidang kesehatan karena ingin memberikan perawatan dan kenyamanan kepada pasien, bukan menghabiskan waktu mencari atau menganalisis informasi." ungkap Benedikt.

Ia juga mengungkapkan bahwa sekitar 85 persen tenaga medis di rumah sakit tersebut telah menggunakan MEMORI setiap hari. "Jika pasien segera mendapatkan pengobatan yang tepat, kondisi mereka dapat dicegah agar tidak semakin memburuk. Ketika dokter dan perawat dapat mempercayai informasi yang mereka terima, mereka bisa fokus melakukan hal yang paling mereka kuasai, yaitu memberikan perawatan kepada pasien." tambah benedict

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....