Bukan BBM Biasa, Ini Fakta Menarik tentang B50
- 25 Jun 2026 17:33 WIB
- Jember
RRI.CO.ID - Jember, Pemerintah Indonesia terus mendorong penggunaan bahan bakar nabati (BBN) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Setelah penerapan biodiesel B35 dan pengujian B40, kini muncul istilah B50 yang mulai banyak diperbincangkan.
Dilansir dari esdm.go.id, B50 adalah bahan bakar biodiesel yang terdiri dari campuran 50 persen solar (diesel) dan 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati, terutama minyak kelapa sawit yang telah diolah menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Angka "50" menunjukkan persentase kandungan biodiesel dalam campuran tersebut.
Program ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan sekaligus mengurangi impor bahan bakar minyak. Indonesia merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia. Dengan memanfaatkan sawit sebagai bahan baku biodiesel, pemerintah berharap dapat mengurangi impor solar, meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, mengurangi emisi gas rumah kaca, mendorong ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat membuka Global Hydrogen Ecosystem Summit pada 15 April 2025 mengatakan bahwa Indonesia akan terus meningkatkan campuran biodiesel, dari B35 menuju B40 dan selanjutnya B50 sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional.
Secara umum, penggunaan biodiesel dengan campuran yang lebih tinggi memerlukan pengujian menyeluruh karena karakteristiknya berbeda dengan solar murni. Menurut PT Pertamina Patra Niaga, kendaraan diesel modern umumnya dirancang untuk menerima campuran biodiesel tertentu sesuai rekomendasi pabrikan. Namun semakin tinggi kandungan biodiesel, semakin penting memastikan kesiapan mesin dan sistem bahan bakar.
Potensi keuntungan B50 adalah bahan bakar ini mempunyai emisi yang lebih rendah, biodiesel menghasilkan emisi karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar diesel konvensional. Indonesia pun bisa mengurangi ketergantungan impor karena sebagian bahan bakunya berasal dari dalam negeri, penggunaan B50 dapat membantu mengurangi kebutuhan impor BBM. Permintaan biodiesel yang meningkat juga dapat menyerap produksi minyak sawit domestik.
Meski menjanjikan, B50 juga memiliki sejumlah tantangan diantaranya adalah tidak semua kendaraan diesel lama dirancang untuk menerima campuran biodiesel tinggi. Selain itu, Biodiesel memiliki sifat pembersih yang dapat meluruhkan endapan dalam tangki bahan bakar sehingga berpotensi mempercepat penyumbatan filter pada tahap awal penggunaan. Campuran biodiesel yang tinggi membutuhkan pengelolaan penyimpanan yang lebih baik dibanding solar biasa.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menjelaskan dalam keterangan kepada media pada 21 Februari 2025 bahwa pemerintah masih melakukan serangkaian pengujian sebelum implementasi penuh B50. "B50 harus melalui road test dan evaluasi teknis yang komprehensif untuk memastikan performa kendaraan tetap terjaga dan aman digunakan masyarakat." ujarnya.
Secara prinsip, B50 berpotensi memberikan manfaat bagi ketahanan energi dan pengurangan emisi. Namun, penggunaannya secara luas masih memerlukan pengujian dan penyesuaian teknis agar aman bagi seluruh jenis kendaraan diesel.
Bagi pemilik kendaraan, mengikuti rekomendasi pabrikan tetap menjadi langkah terbaik sebelum menggunakan bahan bakar dengan kandungan biodiesel yang lebih tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....