Satelit Ungkap “Denyut Nadi” Enam Kota Besar Dunia
- 18 Jun 2026 17:08 WIB
- Jember
Poin Utama
- Ruang Angkasa
- Nadi Kota
- Kota Besar
RRI.CO.ID, Jember - Para ilmuwan berhasil mengembangkan metode baru untuk memantau perkembangan kota-kota besar dunia melalui citra satelit, layaknya memeriksa denyut nadi manusia. Reuters (18-06-2026) melaporkan bahwa sebuah penelitian mengungkap bahwa setiap kota memiliki pola pertumbuhan yang unik dan dapat diamati hampir secara real time dari luar angkasa.
Tim peneliti menggunakan data satelit Landsat milik NASA dan Sentinel-2 milik Badan Antariksa Eropa untuk mengamati perubahan fisik di enam kota besar dunia, yakni Dubai, Lagos, Mexico City, Mumbai, Seattle, dan Shenzhen. Perubahan yang dipantau meliputi pembangunan gedung baru, pembongkaran bangunan, peningkatan infrastruktur, hingga ekspansi kawasan perkotaan ke ruang hijau.
Ketua peneliti, Zhe Zhu dari University of Connecticut, menjelaskan bahwa selama ini para ahli lebih banyak mengandalkan data yang dikumpulkan secara berkala, seperti sensus tahunan atau peta perkembangan kota dalam rentang waktu tertentu. Menurutnya, pendekatan tersebut sering kali tidak mampu menangkap dinamika yang terjadi dari waktu ke waktu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa urbanisasi tidak berlangsung secara mulus dan berkelanjutan. Sebaliknya, pertumbuhan kota terjadi dalam lonjakan-lonjakan intens, bersifat siklus, dan berbeda-beda antarwilayah dalam kota yang sama. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “urban pulse” atau denyut nadi perkotaan.
Setiap kota menunjukkan karakter yang berbeda. Shenzhen di Tiongkok mencatat pertumbuhan paling besar dan intens, mencerminkan pembangunan yang didorong kebijakan pemerintah. Dubai memperlihatkan lonjakan pembangunan yang besar namun cenderung spekulatif, terutama melalui proyek-proyek raksasa di kawasan pesisir. Sementara itu, Lagos di Nigeria menunjukkan pertumbuhan yang terfragmentasi dengan periode panjang tanpa aktivitas yang kemudian diselingi lonjakan pembangunan singkat.
Di sisi lain, Seattle di Amerika Serikat mencerminkan pola pembangunan yang lebih dipengaruhi mekanisme pasar. Adapun Mumbai di India dan Mexico City di Meksiko dinilai lebih tangguh menghadapi guncangan global, termasuk pandemi COVID-19, dibandingkan kota-kota lainnya yang diteliti.
Penelitian juga menemukan bahwa pandemi COVID-19 sempat menyebabkan perlambatan pembangunan secara serentak di berbagai kota dunia. Namun, kecepatan pemulihan setiap kota berbeda-beda. Shenzhen pulih dengan cepat, sedangkan kota lain menunjukkan pola pemulihan yang lebih lambat dan bertahap.
Para peneliti berharap metode pemantauan ini dapat menjadi alat peringatan dini bagi pemerintah dan perencana kota. Dengan memantau perubahan pembangunan secara berkala, mereka dapat mendeteksi lebih cepat tanda-tanda stagnasi ekonomi, kemunduran kawasan perkotaan, atau tekanan terhadap infrastruktur sebelum berkembang menjadi krisis yang lebih besar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....