Lantai Masjidil Haram Tetap Sejuk di Cuaca Ekstrem

  • 30 Mei 2026 10:55 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Lantai marmer putih yang mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah, selama ini sering membuat jutaan jemaah haji dan umrah kagum. Di tengah suhu ekstrem Arab Saudi yang bisa mencapai lebih dari 50 derajat Celsius saat musim panas, permukaan lantai tersebut tetap terasa sejuk ketika dipijak tanpa alas kaki. Banyak orang menduga kesejukan itu berasal dari sistem pendingin bawah tanah atau pipa air dingin tersembunyi. Namun menurut laporan Arab News, rahasia sebenarnya terletak pada jenis marmer khusus yang digunakan di area Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Marmer tersebut berasal dari Pulau Thassos di Yunani bagian timur, sebuah pulau di Laut Aegea yang sejak zaman kuno terkenal menghasilkan marmer putih berkualitas tinggi. Marmer Thassos memiliki karakteristik langka berupa kemampuan memantulkan cahaya matahari dalam jumlah sangat tinggi sekaligus menyerap panas dalam tingkat yang sangat rendah. Karena warna putihnya yang sangat murni, marmer ini sering dijuluki “snow white marble” atau marmer putih salju.

Dilansir dari artikel Tareq Al-Thaqafi yang dimuat Arab News pada 13 April 2023, Kerajaan Arab Saudi telah mengimpor marmer Thassos selama beberapa dekade khusus untuk digunakan di Dua Masjid Suci. Pemilihan material ini dilakukan demi memberikan kenyamanan bagi jutaan jemaah yang beribadah tanpa alas kaki di area terbuka Masjidil Haram. Undersecretary-General untuk urusan teknis dan pemeliharaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Eng. Fares Al-Saedi, menjelaskan bahwa marmer tersebut tetap terasa dingin meskipun suhu udara di Makkah mencapai 50 hingga 55 derajat Celsius pada musim panas.

Keunikan marmer Thassos tidak hanya berasal dari warnanya, tetapi juga struktur batuannya. Menurut Al-Saedi, setiap lempengan marmer memiliki pori-pori halus yang mampu menyerap kelembapan pada malam hari lalu melepaskannya kembali saat siang hari. Proses alami inilah yang membuat permukaan lantai tetap sejuk meski terkena paparan matahari secara langsung. Ketebalan setiap lempeng marmer mencapai lima sentimeter sehingga mampu menjaga kestabilan suhu permukaan dalam waktu lama.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Construction and Building Materials pada 2021 juga menyebut bahwa marmer Thassos memiliki tingkat reflektansi cahaya matahari dan konduktivitas termal yang sangat tinggi dibanding batu kapur biasa yang umum digunakan dalam arsitektur Timur Tengah. Kombinasi tersebut membuat panas matahari tidak mudah tersimpan di permukaan marmer sehingga suhu lantai tetap rendah bahkan saat siang terik.

Penelitian lain yang dilakukan tim gabungan Saudi-Mesir dan dipublikasikan dalam Arabian Journal of Geosciences pada 2018 bahkan menyebut marmer ini sebagai “smart marble” atau marmer pintar pelepas panas. Kandungan kristal dolomit dalam batu tersebut dianggap menjadi faktor utama yang membuatnya mampu mempertahankan suhu dingin secara alami.

Selain fungsi teknisnya, penggunaan marmer putih ini juga memperkuat keindahan visual Masjidil Haram. Pantulan cahaya matahari pada lantai putih menciptakan suasana terang dan megah di area thawaf, tempat jemaah mengelilingi Ka’bah. Efek visual itu semakin memperkuat pengalaman spiritual para pengunjung dari berbagai negara.

Menurut peneliti sejarah dan warisan budaya Abdullah Al-Batati yang dikutip Arab News, area thawaf di sekitar Ka’bah pada masa lampau sebenarnya hanya berupa tanah terbuka dengan kerikil kecil dan batu-batu sederhana. Perubahan besar mulai terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khattab ketika area Masjidil Haram diperluas dan mulai diperkeras menggunakan batu. Penggunaan marmer kemudian berkembang pada era Dinasti Abbasiyah hingga masa Kesultanan Utsmaniyah.

Pada era modern, proyek penggunaan marmer tahan panas dimulai secara besar-besaran saat Raja Khalid memerintahkan perluasan Masjidil Haram pada akhir 1970-an. Marmer putih tahan panas dari Yunani mulai dipasang untuk menggantikan permukaan lama agar area thawaf lebih nyaman menampung jemaah yang terus meningkat setiap tahunnya. Proyek tersebut kemudian dilanjutkan pada masa Raja Fahd hingga Raja Salman melalui berbagai perluasan dan renovasi besar Masjidil Haram.

Profesor sejarah kuno dari King Saud University, Dr. Salma Hawsawi, menjelaskan bahwa marmer Thassos dikirim dari Yunani dalam bentuk blok batu besar sebelum diproses di Arab Saudi oleh Binladen Group, perusahaan konstruksi yang menangani pengembangan Dua Masjid Suci. Tim teknisi dan insinyur melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan marmer tetap dalam kondisi optimal. Jika ada lempengan yang kehilangan kemampuan pendinginnya, marmer tersebut akan langsung diganti dengan yang baru.

Keberadaan marmer Thassos di Masjidil Haram menjadi contoh bahwa teknologi material tradisional dapat memberikan solusi alami terhadap cuaca ekstrem. Di tengah suhu gurun yang sangat panas, jutaan jemaah tetap bisa berjalan nyaman di area sekitar Ka’bah tanpa khawatir permukaan lantai membakar telapak kaki mereka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....