Menembus Jejak Zaman Dinosaurus, Kisah Riset Paku Purba
- 17 Apr 2026 22:51 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Di lereng sunyi kawasan Ijen Geopark, tepatnya di Erek-erek Geoforest, waktu seakan berjalan lebih lambat. Hutan lebat dengan kelembapan tinggi, kanopi rapat, dan aliran air yang melimpah menghadirkan suasana purba seolah membuka jendela ke masa ketika dinosaurus masih menguasai bumi.
Di tengah lanskap itu, tumbuh menjulang tanaman paku pohon dari marga Cyathea, yang kerap dijuluki “fosil hidup”. Tumbuhan ini diperkirakan telah ada sejak sekitar 65 juta tahun lalu. Tim dosen Biologi FMIPA Universitas Jember (UNEJ) menemukan dua spesies utama di kawasan ini, yakni Cyathea contaminans dan Cyathea orientalis, yang tumbuh subur pada ketinggian 1.600–1.700 mdpl.
Bagi Hari Sulistyowati, pengalaman pertama meneliti kawasan ini pada 2020 meninggalkan kesan mendalam. Ia menggambarkan Erek-erek Geoforest seperti hutan dari era dinosaurus.
“Ketika kami memulai riset di Erek-erek Geoforest, kami takjub dengan kondisi alamnya, seperti sedang masuk ke hutan di era dinosaurus,” ungkap Hari Jumat,17 April 2026.
Paku-paku pohon setinggi enam hingga sepuluh meter berdiri tegak menyerupai pohon kelapa, menandakan lingkungan yang masih sangat alami dan minim gangguan.Keunikan ini tidak lepas dari kondisi geografis kawasan yang “terlindungi” oleh bentang alam Gunung Rante. Benteng alami ini diduga menjaga wilayah Erek-erek dari dampak letusan Gunung Ijen purba di masa lalu, sehingga ekosistemnya tetap lestari hingga kini.
Riset yang dilakukan tidak berhenti pada identifikasi jenis. Dua peneliti lain, Fuad Bahrul Ulum dan Dwi Setyati, mendalami morfologi paku pohon—mulai dari tinggi batang, warna sisik, bentuk spora, hingga pola reproduksi. Studi ini diharapkan memperkaya pengetahuan ilmiah tentang tumbuhan purba yang bentuknya hampir tidak berubah selama jutaan tahun.
Namun Erek-erek Geoforest bukan hanya tentang paku pohon. Kawasan ini menyimpan kekayaan biodiversitas lain, baik flora maupun fauna, yang membuka peluang riset lanjutan lintas bidang. Nilai ekologis dan biologis yang tinggi menjadikannya masuk kategori kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV).
Di tengah pesona dan potensi ilmiah itu, pesan yang disampaikan para peneliti sederhana namun mendesak: menjaga kelestarian. Erek-erek Geoforest bukan sekadar hutan, melainkan arsip hidup perjalanan bumi—warisan tak ternilai bagi kawasan Tapal Kuda dan generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....