Inovasi Teknologi Bantu Pelari Tunanetra Jelajahi Rute Maraton

  • 06 Apr 2026 11:36 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Seorang pelari tunanetra asal Inggris, Clarke Reynolds, bersiap menempuh maraton dengan cara yang tak biasa. Jika sebelumnya ia mengandalkan pemandu fisik, kali ini ia akan berlari dengan bantuan teknologi yang memungkinkan orang lain “melihat” apa yang ia lihat dan memberinya arahan secara real-time.

Seperti dilaporkan BBC, Reynolds yang kini berusia 45 tahun akan mengikuti Brighton Marathon dengan dukungan jaringan relawan virtual dari berbagai penjuru dunia. Melalui kacamata pintar yang dilengkapi kamera dan aplikasi Be My Eyes, para relawan dapat terhubung langsung, melihat kondisi di depannya, lalu memberikan panduan suara selama ia berlari sejauh 42,2 kilometer.

Bagi Reynolds, lari bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan cara lain untuk menyuarakan kesadaran tentang kehilangan penglihatan. Dalam kesehariannya, ia dikenal sebagai kreator yang mengubah huruf braille menjadi karya seni untuk edukasi publik. Ia bahkan memiliki alter ego bernama “Mr. Dot”, yang ia gunakan saat mengajar braille di sekolah-sekolah.

Perjalanan hidupnya sendiri tidak mudah. Ia mulai kehilangan penglihatan sejak kecil di mata kanan, dan sekitar 13 tahun lalu kondisinya semakin memburuk hingga hampir sepenuhnya buta. Kini, ia menggambarkan penglihatannya seperti berada di dalam air yang hanya bisa melihat bayangan, bentuk, dan sedikit warna.

Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menghentikannya untuk terus berkarya dan beraktivitas. Ia pernah menyelesaikan London Marathon dengan bantuan pemandu yang terhubung melalui tali. Namun untuk tantangan berikutnya, ia memilih pendekatan berbeda yang lebih inovatif.

Melalui aplikasi Be My Eyes, Reynolds cukup mengaktifkan perintah suara untuk terhubung dengan relawan. Mereka kemudian akan memberitahu kondisi di sekitarnya, mulai dari rintangan seperti tempat sampah atau mobil parkir, hingga arah yang harus diambil. Menurut BBC, teknologi ini biasanya digunakan untuk membantu aktivitas sehari-hari, tetapi kini dimanfaatkan dalam skala yang jauh lebih besar.

Menariknya, para relawan ini bukan hanya berperan sebagai “mata”, tetapi juga penyemangat. Reynolds bahkan menyebut mereka sebagai cheerleaders yang menemani perjalanannya. Lebih dari 100 orang dari berbagai negara, termasuk dari Timur Tengah, telah menyatakan dukungan mereka.

Meski teknologi menjadi andalan utama, tim penyelenggara tetap menyiapkan pemandu cadangan untuk mengantisipasi jika terjadi kendala teknis. Hal ini penting mengingat maraton merupakan tantangan fisik dan logistik yang tidak ringan.

Didukung oleh organisasi amal Fight for Sight, Reynolds berharap aksinya bisa menginspirasi lebih banyak orang, terutama mereka yang mengalami keterbatasan penglihatan. Ia juga ingin menunjukkan bahwa teknologi dapat membuka peluang baru yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Seperti diungkapkan kepada BBC, ia mengaku tak pernah membayangkan hidupnya akan sampai di titik ini dan menjadi duta organisasi besar sekaligus inspirasi bagi banyak orang. Kini, dengan langkah yang penuh keyakinan, ia bersiap membuktikan bahwa batasan bukanlah akhir, melainkan awal dari cara baru untuk melangkah.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....