Duri Menempel di Bulu Anjing Jadi Inspirasi Velcro
- 29 Mar 2026 08:00 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Velcro telah lama dikenal sebagai salah satu penemuan sederhana namun revolusioner yang digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pakaian hingga peralatan industri. Namun, di balik popularitasnya, penggunaan Velcro ternyata tidak selalu berjalan mulus, bahkan sempat menjadi masalah serius bagi militer Amerika Serikat.
Dilansir dari time.com, Angkatan Darat Amerika Serikat (U.S. Army) pernah menghadapi persoalan dengan Velcro yang digunakan pada seragam tempur sejak 2004. Sistem perekat yang dikenal sebagai “hook-and-loop” ini dinilai terlalu berisik saat dibuka, sehingga berpotensi membahayakan prajurit dalam situasi tempur. Selain itu, debu dari wilayah seperti Afghanistan dan Irak mudah menyumbat bagian pengaitnya, membuat Velcro tidak lagi berfungsi optimal. Setelah menerima banyak keluhan, militer melakukan evaluasi selama setahun dan akhirnya memutuskan untuk menghapus penggunaan Velcro dari seragam mulai Agustus, menggantinya kembali dengan kancing yang lebih andal.
Velcro sendiri merupakan hasil temuan insinyur asal Swiss, Georges de Mestral, pada 1941. Ide ini muncul ketika ia melihat biji tanaman berduri (burr) yang menempel pada pakaian dan bulu anjingnya saat berjalan di hutan. Setelah hampir delapan tahun penelitian, ia berhasil menciptakan sistem perekat berbasis dua lapisan kain dengan satu sisi memiliki ribuan kait kecil dan satu lagi dengan loop halus. Temuan ini dipatenkan pada 1955 dan dinamai “Velcro”, gabungan dari kata “velvet” dan “crochet”.
Awalnya, Velcro dibuat dari katun, namun kemudian beralih ke bahan nilon yang lebih tahan lama. Perlu diketahui bahwa Velcro sebenarnya adalah nama merek dagang, bukan istilah umum, meskipun dalam praktiknya sering digunakan untuk menyebut semua jenis perekat serupa.
Popularitas Velcro meningkat pesat setelah digunakan oleh NASA pada awal 1960-an. Para astronot memanfaatkannya untuk menjaga benda-benda tetap pada tempatnya di kondisi tanpa gravitasi. Sejak saat itu, Velcro mulai digunakan secara luas di berbagai bidang, termasuk dunia medis, otomotif, hingga perlengkapan rumah tangga.
Dalam industri fashion, Velcro sempat diprediksi akan menggantikan kancing dan ritsleting setelah diperkenalkan dalam peragaan busana di New York pada 1959. Namun, karena dianggap kurang menarik secara estetika, penggunaannya lebih banyak terbatas pada perlengkapan olahraga. Baru pada 1968, Puma menjadi perusahaan sepatu besar pertama yang menggunakan Velcro pada produknya, diikuti oleh merek lain seperti Adidas dan Reebok. Pada 1980-an, sepatu dengan perekat Velcro menjadi tren populer, terutama di kalangan anak-anak.
Seiring berakhirnya masa paten, berbagai produsen di seluruh dunia mulai memproduksi versi serupa dengan harga lebih murah. Hal ini membuat Velcro sebagai merek harus terus mempertahankan identitasnya di tengah penggunaan istilah yang semakin generik.
Hingga kini, Velcro tetap menjadi produk yang sangat fleksibel dan terus menemukan kegunaan baru, termasuk dalam dunia teknologi modern. Namun, kisah di militer Amerika menunjukkan bahwa tidak semua inovasi cocok untuk setiap kondisi. Dalam beberapa situasi, solusi paling sederhana seperti kancing justru terbukti lebih efektif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....