Deaflympics Ubah Cara “Mendengar” Olahraga lewat Teknologi

  • 23 Mar 2026 11:03 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Pengalaman menonton olahraga selama ini identik dengan suara dan teriakan penonton, peluit wasit, hingga dentuman bola. Namun di ajang Deaflympics Tokyo 2025, konsep tersebut diubah secara mendasar. Seperti dilaporkan BBC, suara kini tidak lagi sekadar didengar, tetapi juga bisa dilihat, dirasakan, bahkan disentuh.

Ajang olahraga khusus atlet tuli ini tidak hanya menjadi panggung kompetisi, tetapi juga laboratorium inovasi teknologi inklusif. Di sini, para insinyur, desainer, dan komunitas tuli bekerja bersama untuk menciptakan cara baru menikmati atmosfer pertandingan tanpa bergantung pada pendengaran.

Salah satu inovasi paling mencolok terlihat di arena tenis meja. Alih-alih hanya mengikuti pergerakan bola, penonton disuguhi tampilan visual berupa kata-kata onomatopoeia berukuran besar di layar. Kata-kata ini merepresentasikan suara pukulan, kecepatan reli, hingga momen penting dalam pertandingan. Pendekatan ini membantu penonton, terutama yang tuli atau baru mengenal olahraga tersebut, untuk memahami jalannya permainan secara lebih intuitif.

Teknologi serupa juga hadir di luar arena. Di sejumlah stasiun di Tokyo, layar transparan mampu menerjemahkan suara menjadi teks secara real-time. Bahkan, sistem berbasis AI yang dikembangkan Fujitsu dapat mengubah berbagai suara lingkungan seperti pengumuman kereta atau alarm yang menjadi teks dan bahasa isyarat. Perangkat ini dikembangkan bersama komunitas tuli, termasuk pelajar, agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Di dalam arena judo, pengalaman menonton dibuat semakin imersif melalui perangkat wearable berbasis getaran. Setiap gerakan atlet seperti langkah kaki, benturan, hingga lemparan yang diterjemahkan menjadi sensasi getaran dengan intensitas berbeda. Penonton tidak hanya melihat pertandingan, tetapi juga “merasakan” setiap momen penting. Teknologi ini bahkan membantu penonton mengetahui kapan pertandingan dimulai dan berakhir, sesuatu yang sebelumnya sulit diakses tanpa suara.

Menariknya, inovasi ini tidak hanya dinikmati oleh penonton tuli. Sejumlah penonton yang dapat mendengar juga merasakan pengalaman baru melalui perangkat tersebut, menunjukkan bahwa teknologi inklusif justru dapat memperkaya pengalaman semua orang.

Eksperimen lain yang tak kalah unik hadir dalam bentuk perangkat bernama Sound Hug. Berbentuk seperti bola, alat ini mengubah musik menjadi getaran dan cahaya yang bisa dipeluk. Teknologi ini mampu menerjemahkan emosi dari musik, sehingga pengguna dapat “merasakan” alunan lagu meski tanpa mendengarnya.

Melalui berbagai inovasi ini, Deaflympics menunjukkan bahwa suara bukanlah sesuatu yang eksklusif bagi mereka yang bisa mendengar. Ketika aksesibilitas dijadikan titik awal, pengalaman olahraga dapat dirancang ulang menjadi lebih inklusif dan universal.

Masa depan olahraga tidak lagi bergantung pada satu indra saja. Dengan teknologi yang terus berkembang, atmosfer pertandingan kini bisa dinikmati dengan cara yang lebih luas, tidak hanya didengar tetapi juga dilihat dan dirasakan.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....