AI Buka Harapan Baru: Dari Antibiotik Super hingga Terapi Parkinson

  • 18 Mar 2026 15:07 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Perkembangan Artificial Intelligence mulai membawa perubahan besar dalam dunia medis, terutama dalam upaya menemukan obat baru. Teknologi ini memungkinkan para ilmuwan menelusuri jutaan hingga miliaran kemungkinan senyawa dalam waktu singkat—sesuatu yang sebelumnya hampir mustahil dilakukan dengan metode konvensional.

Dalam laporan yang dihimpun dari BBC, kemajuan ini hadir di tengah meningkatnya ancaman resistensi antibiotik. Selama beberapa dekade terakhir, efektivitas antibiotik terus menurun karena bakteri semakin mampu beradaptasi. Akibatnya, infeksi yang dulu mudah diobati kini kembali menjadi penyebab kematian yang signifikan di berbagai belahan dunia.

Di sisi lain, pengembangan antibiotik baru berjalan lambat. Tingginya biaya riset serta rendahnya minat industri membuat inovasi di bidang ini tertinggal. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah antibiotik baru yang disetujui masih sangat terbatas, dan sebagian besar belum mampu mengatasi resistensi secara menyeluruh.

Pemanfaatan AI mulai mengubah situasi tersebut. Peneliti dari Massachusetts Institute of Technology, yang dipimpin James Collins, menggunakan teknologi ini untuk mengidentifikasi sekaligus merancang senyawa baru yang berpotensi menjadi antibiotik. Dengan pendekatan ini, mereka berhasil menemukan kandidat yang efektif melawan bakteri berbahaya seperti Neisseria gonorrhoeae dan Staphylococcus aureus, termasuk yang sudah kebal terhadap banyak obat.

Menariknya, senyawa yang dihasilkan AI tidak hanya baru, tetapi juga bekerja dengan mekanisme berbeda dari antibiotik yang ada saat ini. Hal ini membuka peluang terciptanya kelas obat baru yang mampu mengatasi masalah resistensi secara lebih efektif.

Tak hanya untuk penyakit infeksi, AI juga digunakan untuk meneliti penyakit kompleks yang belum memiliki terapi penyembuh, seperti Parkinson’s Disease. Selama ini, pengobatan seperti Levodopa hanya membantu mengurangi gejala tanpa menghentikan perkembangan penyakit.

Penelitian di University of Cambridge yang melibatkan Michele Vendruscolo mencoba pendekatan berbeda dengan memanfaatkan AI untuk menargetkan protein abnormal di otak yang diduga berperan dalam Parkinson. Dengan bantuan teknologi ini, proses penyaringan kandidat obat menjadi jauh lebih cepat dan efisien dibandingkan metode tradisional.

Selain menciptakan obat baru, AI juga dimanfaatkan untuk menemukan kegunaan baru dari obat yang sudah ada. Pendekatan ini dinilai lebih cepat karena obat tersebut telah melewati tahap uji keamanan. Salah satu inisiatif datang dari David Fajgenbaum di University of Pennsylvania melalui organisasi Every Cure, yang menggunakan AI untuk mencocokkan ribuan obat dengan berbagai penyakit, termasuk penyakit langka.

Sejumlah perusahaan bioteknologi seperti Insilico Medicine juga mulai membawa hasil riset berbasis AI ke tahap uji klinis. Ini menjadi sinyal bahwa teknologi tersebut tidak lagi sebatas eksperimen, tetapi mulai diterapkan dalam pengembangan obat secara nyata.

Meski begitu, pemanfaatan AI masih memiliki batasan. Saat ini, teknologi tersebut lebih banyak berperan di tahap awal penelitian, seperti identifikasi target dan penemuan kandidat molekul. Proses lanjutan seperti uji klinis tetap membutuhkan waktu panjang sebelum obat dapat digunakan secara luas.

Namun demikian, arah perkembangannya menunjukkan perubahan besar. Dengan kemampuan mempercepat riset dan membuka kemungkinan baru, AI berpotensi menjadi salah satu kunci utama dalam menghadapi berbagai penyakit yang selama ini sulit diatasi.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....