Debu Gurun Sahara yang Menyuburkan Hutan Amazon
- 26 Okt 2025 08:02 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Gurun Sahara dikenal sebagai salah satu wilayah paling ekstrem dan kering di Bumi, hampir tanpa hujan dan kehidupan. Melansir science.nasa.gov, gurun tandus di Afrika Utara ini justru berperan penting dalam menjaga kelangsungan hidup hutan hujan terbesar di dunia yakni Hutan Amazon di Amerika Selatan.
Setiap tahun, angin kencang dari Sahara membawa jutaan ton debu mineral dan menyeberangi Samudra Atlantik menuju kawasan Amazon, dalam sebuah fenomena yang disebut atmospheric river sepanjang sekitar 16.000 kilometer. Debu itu sebagian besar berasal dari danau purba di Chad dan kaya akan fosfor, unsur penting yang dibutuhkan tumbuhan untuk tumbuh. Menurut NASA, sekitar 27,7 juta ton debu Sahara berhasil mencapai Amazon setiap tahun, menyuplai nutrisi yang sangat dibutuhkan tanah hutan yang sesungguhnya miskin mineral.
Fosfor yang terbawa debu ini merupakan sisa organisme purba yang telah mati di Sahara ribuan tahun lalu. Tanpa pasokan alamiah ini, ekosistem Amazon bisa kehilangan sumber nutrisi penting yang menjaga keanekaragaman hayati di dalamnya. Penelitian NASA melalui satelit CALIPSO (Cloud-Aerosol Lidar and Infrared Pathfinder Satellite Observation) telah mengukur secara langsung jumlah dan sebaran debu ini dengan akurasi tinggi.
Namun fenomena ini tidak selalu stabil. Data NASA menunjukkan bahwa jumlah debu yang berpindah dari Sahara ke Amazon dapat berubah hingga 86 persen dari tahun ke tahun. Dugaan terkuat mengarah pada wilayah Sahel, kawasan semi-kering di selatan Sahara. Ketika wilayah Sahel mengalami curah hujan yang lebih tinggi, jumlah debu yang beterbangan justru menurun. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh pertumbuhan vegetasi yang mencegah erosi pasir oleh angin, atau perubahan pola angin global akibat iklim.
Para ilmuwan NASA menegaskan bahwa hubungan antara Sahara dan Amazon adalah contoh sempurna bagaimana sistem Bumi saling terhubung lintas benua. Debu gurun yang tampaknya tak berguna, ternyata menjadi “pupuk alami” bagi salah satu ekosistem paling penting di planet ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....