Saat Harga Tomat Anjlok, Inovasi Jadi Penyelamat Petani
- 29 Agt 2025 23:06 WIB
- Jember
KBRN,Jember: Musim panen raya di Jember selalu menghadirkan dua wajah limpahan hasil tani yang melimpah, sekaligus kegelisahan petani ketika harga jatuh di pasaran. Tomat, komoditas yang begitu dekat dengan dapur masyarakat Indonesia kerap menjadi korban dari sistem distribusi yang belum merata. Harga yang anjlok sering kali membuat petani merugi, bahkan tidak jarang hasil panen dibiarkan membusuk.
Namun, di balik tantangan itu, ada peluang besar yang bisa dimanfaatkan. Dr. Nurhayati, S.TP., M.Si., dosen Teknologi Hasil Pertanian (THP) Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember, melihat situasi ini sebagai momentum emas untuk berinovasi.
“Ketika harga tomat sedang murah karena overproduksi, kita tidak bisa hanya pasrah. Inovasi teknologi adalah kunci agar tomat tidak cepat rusak, punya nilai tambah, dan bisa dipasarkan lebih luas,” ujarnya Nurhayati Jumat (30/8/2025).
Nurhayati menyebutkan banyak sekali produk bernilai tinggi yang bisa lahir dari tomat. Di tingkat rumah tangga, petani dan UMKM bisa mengolahnya menjadi pasta, saus, puree, atau bahkan jus tomat bernutrisi. Selai tomat dan tomat kering juga menjadi alternatif yang menarik karena memiliki pasar yang cukup menjanjikan, terutama di sektor kuliner modern.
Di tingkat industri, teknologi pengolahan bisa lebih maju. Proses spray drying mampu menghasilkan bubuk tomat yang praktis dan tahan lama, cocok untuk bumbu, sup instan, atau mie instan. Ada pula teknologi freeze drying yang menjaga warna merah alami serta kandungan antioksidan tomat. Bahkan, melalui fermentasi, tomat dapat diolah menjadi anggur tomat, cuka, hingga produk probiotik.
Lebih jauh lagi, tomat ternyata juga bisa masuk ke dunia kesehatan dan kecantikan. Likopen antioksidan alami pada tomat bermanfaat besar untuk suplemen dan kosmetik. Kulit serta biji tomat yang biasanya terbuang pun bisa menjadi bahan dasar kosmetik atau pewarna alami ramah lingkungan.
Bicara soal inovasi, Nurhayati bukan hanya menyampaikan teori. Ia sudah membuktikan lewat riset yang berhasil dipatenkan. Beberapa karyanya antara lain saus dari lombok terong khas Tengger, keju tahu berbahan dasar kedelai, hingga pektin dari limbah pisang. Setiap paten bukan hanya memberikan perlindungan hukum, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Inovasi dengan formula dan cita rasa spesifik berpotensi untuk dipatenkan. Ini memberikan nilai ekonomi sekaligus kepastian bagi pengembang produk,” jelasnya.
Menurut Nurhayati, diversifikasi produk bukan hanya soal bertahan dari harga yang jatuh, melainkan juga jalan untuk membuka pasar baru dan memunculkan industri pangan yang lebih kreatif. Di sinilah peran universitas menjadi penting: menjembatani hasil riset agar sampai ke tangan petani dan pelaku usaha.
“Kami siap memfasilitasi alih teknologi kepada UMKM maupun industri, sekaligus membuka jejaring bisnis agar produk olahan bisa tersalurkan dengan baik,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....