Lumajang Mulai Terapkan BSAN di Sekolah

  • 30 Sep 2026 18:20 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID Lumajang – Pemerintah Kabupaten Lumajang mulai menerapkan Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman (BSAN) sebagai pendekatan untuk mencegah pelanggaran sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi peserta didik dan guru. Penerapan awal dilakukan melalui sampling di dua satuan pendidikan, yakni SDN Tompokersan 03 dan SMPN 2 Tempeh.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, mengatakan rasa aman menjadi bagian penting dalam mendukung proses pembelajaran. Menurutnya, perlindungan di sekolah tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga kondisi psikologis peserta didik dan guru.

“Ketika peserta didik merasa aman dan nyaman, proses belajar akan berjalan lebih baik. Guru juga harus merasa aman dalam menjalankan tugas mendidik dan mendisiplinkan siswa secara edukatif,” ujar Patria, Rabu, 30 September 2026.

Melalui BSAN, sekolah didorong tidak hanya berfokus pada penanganan ketika pelanggaran sudah terjadi. Upaya pencegahan dilakukan dengan memperkuat budaya sekolah, manajemen kelas, komunikasi yang sehat, serta penyelesaian konflik secara edukatif dan partisipatif.

Pendekatan tersebut menempatkan kedisiplinan dan perlindungan anak sebagai bagian yang berjalan bersama. Siswa tetap perlu memahami aturan dan tanggung jawabnya, sementara proses pendisiplinan diarahkan tetap bersifat mendidik.

Untuk memperkuat penerapannya, Pemkab Lumajang telah menetapkan Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman melalui Keputusan Bupati Lumajang. Kelompok kerja tersebut diketuai oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, sehingga penerapan BSAN mendapat dukungan lintas unsur pemerintah daerah.

Dindikbud Lumajang juga bersinergi dengan program INOVASI melalui Training of Facilitators (ToF) BSAN jenjang Sekolah Dasar. Pelatihan berlangsung selama tiga hari, 25–27 September 2026, di Aula Kantor Dindikbud Lumajang, dengan peserta 10 fasilitator SD dan 13 guru kelas.

Materi pelatihan mencakup konsep BSAN, pendekatan psikologis, strategi fasilitasi, serta pengelolaan kelas yang lebih partisipatif. Para peserta diharapkan dapat menjadi penggerak sekaligus membantu menyebarluaskan praktik BSAN di satuan pendidikan masing-masing.

Sementara itu, penerapan awal di SDN Tompokersan 03 dan SMPN 2 Tempeh menjadi bagian dari proses untuk melihat bagaimana budaya sekolah yang aman dan nyaman dapat diterapkan sesuai kondisi satuan pendidikan. Hasil penerapan dan evaluasi dari tahap awal tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan penguatan sebelum dikembangkan lebih luas.

Bagi siswa dan orang tua, pendekatan ini memberi pesan bahwa kedisiplinan di sekolah tidak harus dibangun melalui rasa takut. Aturan tetap diperlukan, tetapi pelaksanaannya dapat dilakukan dengan komunikasi, pendampingan, dan pendekatan yang membantu anak memahami kesalahan serta bertanggung jawab atas perilakunya.

Pada akhirnya, sekolah diharapkan bukan hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang bagi anak untuk belajar, berinteraksi, membangun karakter, dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan nyaman. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....