Griya Lansia Gerbang Mas Lumajang, Rumah Kepedulian agar Masa Senja Tetap Bermakna

  • 18 Sep 2026 20:25 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang - Masa senja semestinya menjadi waktu untuk beristirahat dengan tenang, dikelilingi keluarga dan orang-orang yang peduli. Namun, tidak semua lansia memiliki kesempatan yang sama. Ada yang hidup tanpa keluarga yang dapat merawat, kehilangan tempat bergantung, atau tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.

Di Kabupaten Lumajang, sebagian dari mereka menemukan tempat untuk kembali merasa diperhatikan melalui Griya Lansia Gerbang Mas Lumajang.

Bukan sekadar tempat tinggal, Griya Lansia menjadi ruang pelayanan dan perlindungan bagi lansia yang membutuhkan pendampingan. Di tempat ini, kebutuhan dasar dipenuhi, kesehatan diperhatikan, aktivitas tetap diberikan, dan yang tak kalah penting, para penghuni memiliki ruang untuk menjalani hari dengan tetap merasa dihargai.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lumajang, Darno, dalam Talkshow JELITA (Jelajah Informasi dan Berita) bertema “Griya Lansia Gerbang Mas Lumajang: Rumah Kepedulian dan Harapan di Masa Senja” di Studio 1 LPPL Radio Suara Lumajang, Kamis (17/9/2026).

Griya Lansia Gerbang Mas Lumajang berdiri sejak 2019 berdasarkan Surat Keputusan Bupati Nomor 12 Tahun 2019. Keberadaannya ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada lansia, terutama mereka yang terlantar, tidak memiliki keluarga yang dapat merawat, atau tidak mendapatkan perhatian maupun pemenuhan kebutuhan dasar.

Saat ini kapasitas Griya Lansia sebanyak 23 orang. Jumlah tersebut direncanakan meningkat menjadi 30 orang mulai Januari 2027.

Namun, keterbatasan kapasitas membuat setiap laporan mengenai lansia terlantar tidak serta-merta berujung pada penempatan di Griya Lansia. Petugas terlebih dahulu mendatangi lokasi untuk melihat kondisi secara langsung dan melakukan asesmen sosial.

“Setiap ada laporan masyarakat, kita tindak lanjuti dengan datang ke lokasi. Kita lakukan asesmen sosial, kemudian dibuat laporan sosial untuk menentukan penanganannya,” jelas Darno.

Proses tersebut menjadi penting karena kebutuhan setiap lansia tidak selalu sama. Ada yang membutuhkan perlindungan, ada yang memerlukan bantuan dalam aktivitas sehari-hari, dan ada pula yang masih memiliki keluarga atau daerah asal yang dapat ditelusuri untuk menentukan penanganan selanjutnya.

Bukan Hanya Soal Kebutuhan Dasar

Di balik rutinitas pelayanan, kehidupan para penghuni Griya Lansia berjalan dengan aktivitas sederhana.

Mereka mendapatkan makan tiga kali sehari serta makanan tambahan seperti bubur kacang hijau dan susu. Kegiatan keagamaan juga tersedia melalui musala yang berada di lingkungan Griya Lansia.

Bagi lansia yang masih mampu berjalan, mereka bahkan dianjurkan melaksanakan salat berjemaah di Masjid Agung Lumajang yang berjarak sekitar 200 hingga 300 meter.

Kesehatan pun menjadi perhatian. Pemeriksaan dilakukan secara rutin minimal satu kali dalam sebulan melalui kerja sama dengan Puskesmas Perkotaan Kecamatan Lumajang. Senam dan aktivitas ringan juga dilakukan dengan menyesuaikan kondisi serta kemampuan masing-masing penghuni.

Ada pula aktivitas yang tampak sederhana, tetapi justru membuat hari-hari mereka lebih berarti.

Sebagian lansia memilih merawat bunga dan tanaman di sekitar lingkungan Griya Lansia.

“Para penghuni juga diberikan kesempatan melakukan berbagai aktivitas sesuai kemampuan dan minat. Sebagian lansia senang merawat bunga dan tanaman sehingga turut membantu menjaga lingkungan Griya Lansia tetap asri,” ujar Darno.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pendampingan lansia tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik. Kesempatan untuk tetap melakukan sesuatu yang disukai juga menjadi bagian dari upaya menjaga kebermaknaan hidup para penghuni.

Perhatian Kecil, Arti yang Besar

Ada hal lain yang tidak tercantum dalam daftar kebutuhan pokok, tetapi memiliki arti besar bagi para penghuni: perhatian.

Kunjungan masyarakat maupun pemberian santunan dari berbagai kelompok dinilai turut memberikan semangat. Bukan semata karena bantuan materi yang dibawa, melainkan karena kehadiran orang lain membuat para lansia merasa masih menjadi bagian dari lingkungan sosial.

“Tidak harus yang mahal. Perhatian itu juga membuat mereka merasa senang,” ungkap Darno.

Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang lebih luas. Kepedulian terhadap lansia tidak selalu harus hadir dalam bentuk bantuan besar. Menyempatkan waktu untuk berkunjung, berbincang, atau sekadar menunjukkan perhatian dapat menjadi bentuk dukungan yang bermakna.

Bekerja dengan Hati Memberikan pelayanan kepada lansia juga bukan pekerjaan yang ringan.

Saat ini terdapat empat petugas yang bekerja secara bergantian selama 24 jam. Pada saat yang sama, sejumlah penghuni membutuhkan bantuan penuh untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Karakter dan kondisi setiap lansia pun berbeda. Karena itu, pelayanan membutuhkan kesabaran, ketelatenan, sekaligus kemampuan memahami kebutuhan masing-masing individu.

“Kalau kita bekerja dengan hati, insyaallah bisa. Ini kalau bekerja dengan emosi tidak bisa,” jelas Darno.

Di sinilah pelayanan sosial menemukan sisi manusianya. Bukan hanya tentang berapa banyak kebutuhan yang dipenuhi, tetapi bagaimana seseorang yang membutuhkan pertolongan diperlakukan dengan sabar dan bermartabat.

Pemerintah Kabupaten Lumajang juga terus memberikan dukungan terhadap fasilitas Griya Lansia. Sejumlah sarana telah diperbarui, antara lain 30 unit spring bed, renovasi bangunan, televisi, internet, mesin cuci, meja, serta perlengkapan pendukung lainnya.

Ketika Persoalan Sosial Membutuhkan Ruang yang Lebih Luas

Peran Griya Lansia dalam praktiknya juga bersinggungan dengan persoalan sosial lain.

Saat ini fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sementara untuk menangani masyarakat yang mengalami permasalahan sosial, sembari petugas melakukan penelusuran keluarga dan daerah asal. Masa tinggal untuk penanganan tersebut maksimal tujuh hari.

Jika identitas dan daerah asal berhasil diketahui, Dinas Sosial kemudian berkoordinasi dengan keluarga maupun pemerintah daerah terkait. Sementara masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat dirujuk ke unit pelayanan sosial milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur sesuai kondisi dan kebutuhan.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya kebutuhan terhadap ruang pelayanan sosial yang lebih luas di Kabupaten Lumajang.

Darno menyebut keberadaan Lingkungan Pondok Sosial (Liposos) menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diwujudkan. Liposos nantinya diharapkan dapat menangani berbagai persoalan sosial, tidak hanya yang berkaitan dengan lansia.

“Kalau ada Liposos, otomatis nanti lansia maupun siapa pun orang yang mengalami permasalahan sosial yang tinggal di Liposos itu bisa berkarya,” ungkapnya.

Liposos juga diharapkan tidak sekadar menjadi tempat penampungan. Fasilitas dan kegiatan keterampilan dapat dikembangkan agar masyarakat yang mendapatkan pendampingan tetap memiliki ruang untuk berkarya sesuai kemampuan.

Menurut Darno, kebutuhan tersebut juga menjadi aspirasi DPR karena persoalan sosial yang dihadapi masyarakat cukup beragam.

Harapannya, Kabupaten Lumajang ke depan memiliki Liposos dengan lahan dan fasilitas yang memadai. Penanganan persoalan sosial pun dapat dilakukan secara lebih terpadu, sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka yang didampingi untuk tetap produktif.

Kepedulian Dimulai dari Rumah

Pada akhirnya, perlindungan terhadap lansia tidak hanya berbicara tentang keberadaan sebuah fasilitas pemerintah.

Ada keluarga. Ada pemerintah desa. Ada RT dan RW. Ada masyarakat di lingkungan sekitar.

Semuanya memiliki peran untuk mengenali persoalan sosial sedini mungkin, sebelum seseorang benar-benar kehilangan tempat untuk bergantung.

Darno mengingatkan generasi muda agar mempersiapkan kehidupan keluarga dengan penuh tanggung jawab dan tidak mengabaikan orang tua maupun anggota keluarga yang membutuhkan perhatian.

“Mumpung kita masih muda, mari kita berbuat sesuai dengan norma-norma agama, sesuai dengan peraturan yang ada. Jangan kita menelantarkan keluarga kita,” pesannya.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa persoalan lansia terlantar tidak selalu bermula ketika seseorang memasuki masa tua. Ia bisa berkaitan dengan relasi keluarga, kepedulian lingkungan, kondisi sosial, hingga kemampuan masyarakat mengenali dan merespons persoalan sejak awal.

Karena itu, Griya Lansia Gerbang Mas Lumajang bukanlah satu-satunya jawaban. Ia menjadi salah satu bagian dari sistem kepedulian yang membutuhkan dukungan banyak pihak.

Di sana, kebutuhan dasar dipenuhi. Kesehatan diperhatikan. Aktivitas tetap diberikan. Dan perhatian dari orang lain menjadi pengingat bahwa masa senja tetap memiliki nilai.

Sebab pada akhirnya, merawat lansia bukan hanya tentang memastikan mereka memiliki tempat untuk tinggal, tetapi juga memastikan mereka tetap merasa dilihat, dihargai, dan tidak berjalan sendirian. (MC Kab. Lumajang/Dy/Fb/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....