Pisang Mas Kirana Lumajang Mulai Mengetuk Pasar Singapura
- 10 Sep 2026 17:14 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Lumajang - Selama ini, perjuangan petani Pisang Mas Kirana dimulai dari kebun. Merawat tanaman, menjaga kualitas buah, dan memastikan hasil panen tetap bernilai. Kini, buah yang mereka rawat itu sedang menempuh proses baru untuk diperkenalkan kepada calon pembeli di Singapura.
Langkah tersebut masih berada pada tahap penjajakan. Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama Food and Agriculture Organization (FAO) mempertemukan Pisang Mas Kirana dengan calon mitra dari Singapura untuk membahas karakter produk, kebutuhan pasar, kesiapan pasokan, umur simpan, hingga kemungkinan pengiriman percobaan.
Bagi ratusan petani yang mengembangkan komoditas ini, proses tersebut memiliki arti lebih dari sekadar memperkenalkan buah ke luar negeri. Jika nantinya berkembang menjadi kerja sama perdagangan, rantai pemasaran yang lebih luas diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi produk yang dihasilkan dari kebun mereka.
Saat ini tercatat sekitar 629 petani dengan luas lahan mencapai 238 hektare dan lebih dari 45 ribu pohon produktif.
Kepala Bidang Hortikultura Kabupaten Lumajang, Hendra Suwandaru, mengatakan pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karakter Pisang Mas Kirana sekaligus memahami kebutuhan calon pembeli.
“Pisang Mas Kirana ini merupakan pisang lokal premium yang sudah memiliki indikasi geografis. Dari sisi kualitas, produk ini memiliki karakteristik yang menarik untuk pasar ekspor, sehingga kami terus mendorong agar potensi tersebut dapat dikembangkan,” ujar Hendra saat panen bersama petani, Rabu (9/9/2026).
Dari Kebun Lumajang, Membawa Identitas Produk
Pisang Mas Kirana memiliki karakter yang menjadi bagian dari daya tariknya.
Ukurannya relatif kecil dan seragam, kulitnya berwarna kuning keemasan, rasanya manis, dan teksturnya renyah. Tingkat kemanisannya berada pada kisaran 22–29 derajat Brix.
Produk tersebut juga telah memiliki Indikasi Geografis yang terdaftar pada 2024.
Bagi produk pertanian, identitas geografis memberikan nilai tambah karena memperkuat keterkaitan produk dengan daerah asalnya.
Dari sisi keamanan pangan, hasil pengujian yang disampaikan dalam penjajakan juga menunjukkan produk memenuhi standar yang relevan, termasuk SNI dan Codex.
“Jadi, bukan hanya dari sisi rasa, tetapi juga ada aspek keamanan pangan dan identitas produk yang menjadi nilai tambah. Ini yang kami perkenalkan kepada calon pembeli di Singapura,” kata Hendra.
Karakter tersebut menjadi modal awal sebelum Pisang Mas Kirana menjalani tahapan berikutnya.
Di Balik Satu Buah Pisang, Ada Ratusan Petani
Produksi Pisang Mas Kirana saat ini sekitar 43,8 ton per bulan. Dengan pengelolaan dan peningkatan produktivitas, kapasitas tersebut diperkirakan berpotensi meningkat hingga sekitar 191 ton per bulan.
Angka itu menunjukkan bahwa Lumajang memiliki basis produksi yang cukup besar. Namun, jumlah produksi saja belum cukup.
Calon pembeli membutuhkan kualitas yang seragam dan pasokan yang konsisten. Artinya, pekerjaan di tingkat kebun menjadi bagian penting dari keseluruhan proses.
Hendra mengatakan konsistensi tersebut masih perlu diperkuat.
“Dari sisi produksi, kita sudah memiliki basis yang cukup. Tinggal bagaimana meningkatkan konsistensi pasokan, kualitas, dan pengelolaannya agar bisa memenuhi kebutuhan pasar ekspor,” jelasnya.
Bagi petani, kebutuhan tersebut berarti menjaga kualitas sejak tanaman berada di lahan, bukan hanya ketika buah sudah siap dikirim.
Satu sampai Dua Ton untuk Uji Perjalanan
Pembicaraan dengan calon mitra Singapura mulai mengarah pada kemungkinan pengiriman percobaan sekitar 1–2 ton.
SumiFru, yang memasok sejumlah jaringan ritel seperti FairPrice/NTUC, Cold Storage, 7-Eleven, Giant, dan RedMart, saat ini masih memperoleh pasokan dari Filipina.
Sementara Eastern Green merupakan importir sekaligus pemasok bagi rumah makan dan peritel kecil.
Kedua pihak tersebut terbuka untuk mempertimbangkan Pisang Mas Kirana sebagai sumber pasokan baru.
Namun, pengiriman percobaan bukan sekadar mengirim buah dari satu negara ke negara lain.
Ada sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab: bagaimana kondisi buah selama perjalanan, bagaimana kualitasnya ketika tiba, dan bagaimana respons konsumen terhadap karakter Pisang Mas Kirana?
Jawabannya akan menjadi bahan evaluasi sebelum langkah berikutnya ditentukan.
Dua Minggu di Suhu Ruang
Salah satu data yang menjadi perhatian adalah hasil uji umur simpan. Pisang Mas Kirana disebut mampu bertahan hingga sekitar dua minggu pada suhu ruang.
Data tersebut penting karena daya tahan buah menjadi salah satu pertimbangan dalam distribusi lintas negara.
Meski demikian, pengiriman nyata tetap diperlukan untuk melihat bagaimana hasil pengujian tersebut bekerja dalam kondisi sebenarnya.
Dari sini, market testing tidak hanya menjadi ujian bagi buah, tetapi juga bagi sistem penanganannya, mulai dari panen, pengemasan, pengiriman, hingga produk diterima pembeli.
Petani Mulai Belajar Rantai Perdagangan Baru
Masuk ke rantai perdagangan internasional membawa sejumlah persyaratan yang tidak sederhana.
Ada standar produk, pengemasan, dokumen, pengiriman, hingga ketentuan perdagangan yang harus dipenuhi.
Karena itu, dalam penjajakan muncul usulan skema transisi yang memungkinkan pembeli melakukan kontrak langsung dengan koperasi atau petani. Sementara proses pengiriman dan pemenuhan ketentuan ekspor pada tahap awal dapat disubkontrakkan kepada eksportir yang telah berpengalaman.
Skema tersebut memungkinkan koperasi dan petani mengenal proses perdagangan internasional secara bertahap.
Mereka tidak harus langsung menguasai seluruh proses teknis, tetapi mulai memahami standar yang dibutuhkan ketika hasil kebun masuk ke rantai pemasaran yang lebih panjang.
Hendra mengatakan, kepercayaan menjadi bagian penting dalam tahapan awal tersebut.
“Untuk tahap awal, tentu kita perlu membangun kepercayaan melalui pengiriman percobaan. Setelah kualitas dan respons pasar sesuai, peluang kerja sama komersial bisa dikembangkan,” ujarnya.
Tantangan Tetap Berawal dari Kebun
Di tengah proses tersebut, tantangan produksi masih menjadi pekerjaan rumah.
Perubahan kondisi iklim, termasuk dampak El Nino, disebut turut memengaruhi produksi Pisang Mas Kirana. Penurunan produksi berada pada kisaran 15–20 persen.
Kondisi itu menunjukkan bahwa menjaga kontinuitas pasokan tidak hanya berkaitan dengan permintaan pembeli, tetapi juga dengan kemampuan petani menghadapi perubahan kondisi di lahan.
Pendampingan kepada petani dan penggunaan pupuk organik terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas tanaman.
Sebab buah yang nantinya sampai di tangan konsumen Singapura tetap berawal dari tanaman yang dirawat petani di Lumajang.
Nilai Tambah yang Diharapkan Kembali ke Petani
Pada akhirnya, perjalanan Pisang Mas Kirana menuju Singapura bukan hanya cerita tentang sebuah komoditas yang diperkenalkan ke negara lain.
Di dalamnya ada kerja ratusan petani, lahan yang mereka kelola, koperasi yang dapat menjadi penghubung, serta pelaku usaha yang nantinya terlibat dalam rantai distribusi.
Jika proses penjajakan dan pengiriman percobaan berjalan sesuai harapan, kerja sama komersial dapat dikaji lebih lanjut.
Harapannya, pertumbuhan pasar tidak berhenti pada meningkatnya permintaan, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang dirasakan hingga tingkat petani.
“Harapannya, melalui penjajakan ini, Pisang Mas Kirana tidak hanya dikenal sebagai produk unggulan Lumajang, tetapi juga semakin memiliki peluang untuk diterima di pasar global,” pungkas Hendra.
Komunikasi antara pihak Lumajang dan calon mitra pembeli di Singapura selanjutnya akan dilanjutkan melalui kontak yang difasilitasi FAO.
Dari kebun-kebun di Lumajang menuju pasar Singapura, perjalanan Pisang Mas Kirana memang masih panjang. Masih ada pengiriman percobaan, evaluasi kualitas, respons pasar, dan berbagai persyaratan yang perlu dilalui.
Namun, bagi para petani, setiap tahapan itu memiliki arti.
Sebab ketika satu buah Pisang Mas Kirana berhasil menemukan tempat di pasar yang lebih luas, yang ikut berjalan bersamanya bukan hanya nama komoditas, tetapi juga hasil kerja petani dari kebun-kebun Lumajang. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....