Ketua TP PKK Lumajang: Jangan Biarkan Bidan Berjuang Sendiri

  • 06 Jul 2026 02:00 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang - Mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 tidak dimulai ketika anak memasuki bangku sekolah, tetapi sejak masa kehamilan, persalinan, hingga tumbuh kembang pada awal kehidupan. Karena itu, peran bidan menjadi salah satu fondasi utama dalam menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten Lumajang, Dewi Natalia Yudha Adji Kusuma, saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) di Stadion Semeru, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Dewi Natalia, bidan tidak hanya membantu proses persalinan, tetapi juga mendampingi keluarga sejak awal kehidupan seorang anak. Peran itu menjadi bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat fondasi menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

"Kesiapan Generasi Emas 2045 tidak lahir di istana yang megah, tetapi lahir di kamar bersalin dan disambut dengan sentuhan lembut tangan-tangan bidan. Sehat tidaknya mereka 20 tahun lagi ditentukan oleh bidan hari ini," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa tantangan pembangunan kesehatan saat ini menuntut peran bidan semakin luas. Selain memberikan pelayanan kebidanan, bidan juga menjadi pendamping keluarga, penggerak edukasi kesehatan, mitra pemerintah dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta berkontribusi dalam percepatan penurunan stunting di tingkat desa.

"Bidan bukan hanya penolong persalinan. Bidan adalah pemimpin kesehatan di desa, pemimpin data, dan pemimpin edukasi," ujarnya.

Melalui 10 Program Pokok PKK, lanjut Dewi Natalia, TP PKK Kabupaten Lumajang berkomitmen memperkuat kolaborasi dengan para bidan untuk memastikan hak-hak perempuan dan anak terpenuhi, mulai dari kehamilan yang sehat, pemberian ASI eksklusif, pemenuhan gizi balita, hingga edukasi kesehatan keluarga.

Menurutnya, keberhasilan membangun generasi yang unggul tidak dapat dibebankan kepada tenaga kesehatan semata. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, pemerintah, organisasi profesi, kader PKK, hingga masyarakat agar setiap ibu dan anak memperoleh pendampingan yang optimal sejak awal kehidupan.

Ia juga mengingatkan bahwa profesi bidan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan sosial, perkembangan teknologi pelayanan kesehatan, hingga upaya mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia. Namun, tantangan terbesar justru terjadi ketika masyarakat kehilangan akses terhadap pelayanan bidan, khususnya di wilayah pedesaan.

"Tantangan bidan ke depan memang berat, tetapi seberat-beratnya tantangan bidan, lebih berat lagi jika di desa tidak ada bidan desanya," katanya.

Karena itu, Dewi Natalia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memberikan dukungan kepada para bidan agar mereka dapat menjalankan tugas secara optimal dalam melayani ibu, bayi, dan keluarga.

"Mari kita bergandengan tangan, jangan biarkan bidan berjuang sendiri. Ikut menjaga perjuangan bidan berarti ikut menjaga keselamatan ibu dan bayi, sekaligus menjaga masa depan Generasi Emas Indonesia 2045," pungkasnya.

Bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang, penguatan peran bidan merupakan bagian dari investasi pembangunan manusia. Ketika setiap ibu memperoleh pendampingan yang baik selama kehamilan dan persalinan, setiap bayi mendapatkan awal kehidupan yang sehat, serta setiap keluarga memperoleh edukasi kesehatan yang memadai, maka fondasi menuju Generasi Emas Indonesia 2045 akan semakin kokoh. (MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....