Tiga Generasi Menjaga Asa dari Sebungkus Tempe di Lumajang
- 16 Jun 2026 19:22 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Lumajang- Aroma kedelai rebus yang mengepul dari dapur sederhana di Desa Labruk Lor, Kecamatan Sumbersuko, Kabupaten Lumajang, seolah menjadi penanda perjalanan panjang sebuah warisan keluarga. Dari tempat itu, Umi Jamilah menenun kisah yang telah dimulai sejak masa neneknya puluhan tahun silam.
Bagi sebagian orang, tempe mungkin hanya lauk sederhana yang selalu hadir di meja makan. Namun bagi Umi, setiap lembar tempe yang dibungkus rapi menyimpan cerita tentang ketekunan, perjuangan ekonomi, dan semangat mempertahankan usaha keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Perempuan itu tumbuh bersama aroma fermentasi kedelai dan suara kesibukan di dapur produksi. Sejak kecil, ia telah terbiasa melihat orang tuanya mengolah kedelai menjadi tempe. Kini, estafet usaha tersebut berada di tangannya sebagai generasi ketiga.
"Saya sudah generasi ketiga. Dari nenek, terus ibu, lalu ayah. Sekarang saya yang meneruskan," ujar Umi, Senin (15/6/2026) malam.
Usaha yang diwariskan keluarganya tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga membuka kesempatan bagi warga sekitar untuk ikut bekerja. Bagi Umi, keberadaan usaha rumahan itu memiliki nilai lebih dari sekadar mencari keuntungan.
"Alhamdulillah bisa membantu ekonomi keluarga. Bisa mengajak teman-teman dan kelompok-kelompok untuk ikut bekerja," tuturnya.
Setiap hari, aktivitas di rumah produksinya dimulai sejak pagi. Kedelai yang telah direndam semalaman direbus, dikupas, kemudian difermentasi melalui proses yang membutuhkan ketelatenan. Pengalaman bertahun-tahun menjadi modal utama agar kualitas tempe tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan pelanggan.
Namun perjalanan usaha itu tidak selalu mudah.
Dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan harga kedelai menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi para perajin tempe. Harga bahan baku yang dahulu berada di kisaran Rp8.000 per kilogram kini telah menembus Rp13.000 per kilogram. Kenaikan tersebut membuat biaya produksi ikut melonjak.
"Harga kedelai naik terus. Dulu sekitar Rp8.000, sekarang sudah Rp13.000 per kilogram," katanya.
Situasi itu memaksa Umi melakukan penyesuaian harga jual. Tempe yang sebelumnya dijual sekitar Rp5.000 per bungkus kini dipasarkan seharga Rp7.000. Meski demikian, keputusan menaikkan harga tidak diambil dengan mudah.
Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat. Di sisi lain, daya beli masyarakat juga tidak selalu stabil. Namun agar usaha tetap bertahan, langkah tersebut menjadi pilihan yang tak terhindarkan.
"Tetap dijual, hanya harganya naik sedikit. Kalau tidak begitu, sulit untuk menutup biaya produksi," ujarnya.
Bukan hanya persoalan bahan baku yang menjadi tantangan. Umi mengaku, pemasaran justru menjadi pekerjaan rumah yang semakin berat. Produksi masih dapat dilakukan, tetapi memperluas pasar dan mempertahankan pelanggan membutuhkan usaha yang lebih besar di tengah banyaknya pilihan produk yang tersedia.
"Yang susah sekarang itu pemasarannya," katanya singkat.
Meski demikian, perempuan itu tidak kehilangan harapan. Di balik kesibukan mengolah kedelai setiap hari, ia masih menyimpan mimpi yang sederhana namun berarti; menghidupkan kembali kelompok-kelompok usaha yang sempat vakum agar semakin banyak warga memperoleh tambahan penghasilan dari usaha berbasis rumah tangga.
"Saya ingin kelompok itu berkembang lagi. Dulu sempat vakum, sekarang ingin dihidupkan kembali," ungkapnya.
Di tengah naiknya harga bahan baku dan ketatnya persaingan pasar, Umi memilih tetap bertahan. Sebab baginya, usaha tempe bukan sekadar mata pencaharian.
Ia adalah cerita tentang warisan yang dijaga dengan kesabaran, tentang dapur kecil yang menghidupi banyak harapan, dan tentang keyakinan bahwa dari sebungkus tempe sederhana, asa sebuah keluarga dapat terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (Kominfo-lmj/Ard)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....