Ancaman Krisis Air dan OPT Jadi Alarm Baru Pertanian Lumajang

  • 13 Mei 2026 12:49 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Lumajang - Ancaman kemarau panjang yang diprediksi terjadi tahun ini mulai menjadi perhatian serius di sektor pertanian. Persoalan ketersediaan air hingga meningkatnya Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dinilai menjadi tantangan besar yang harus dihadapi petani secara bersama-sama.

Hal tersebut mengemuka dalam talkshow JELITA (Jelajah Informasi dan Berita) di LPPL Radio Suara Lumajang, Rabu (13/5/026), dengan tema “Ancaman Krisis Air dan OPT bagi Petani”. Talkshow menghadirkan narasumber dari Perhimpunan Petani Pangan Nasional (PENA) Jawa Timur, yakni Iskhak Subagiyo, S.E. selaku Ketua PENA Jawa Timur dan Waspodo Budi pselaku Koordinator PUPT Lumajang.

Dalam talkshow tersebut, Ishak Subagiyo menyoroti peringatan dari BMKG terkait potensi kemarau panjang yang dapat berdampak langsung terhadap sektor pertanian dan perkebunan.

"Persoalan utama saat ini tidak hanya pada minimnya curah hujan, tetapi juga kondisi infrastruktur pengairan seperti bendungan dan saluran irigasi yang masih kurang optimal dalam perawatan." ujarnya.

Ia menjelaskan, kebutuhan air untuk satu musim tanam padi mencapai sekitar 1.000 meter kubik selama empat bulan masa tanam. Karena itu, efisiensi penggunaan air menjadi langkah penting yang harus mulai diterapkan petani sejak dini.

Selain ancaman krisis air, Iskhak juga mengingatkan adanya peningkatan serangan OPT seperti tikus, belalang, dan hama lainnya yang mulai terdeteksi di sejumlah wilayah. Menurutnya, musim kemarau sering kali menjadi momentum berkembangnya hama secara lebih cepat apabila tidak diantisipasi sejak awal.

Sementara itu, Waspodo Budi menyampaikan bahwa keterbatasan jumlah petugas PUPT di Lumajang turut menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan dan pendampingan petani.

"Saat ini, hanya terdapat 10 petugas yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dengan cakupan wilayah pendampingan mencapai dua hingga tiga kecamatan untuk setiap petugas" ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa OPT tidak hanya berupa hama, tetapi juga mencakup penyakit tanaman, gulma, hingga dampak fenomena iklim yang memengaruhi kondisi pertanian. Karena itu, pergerakan cepat kelompok tani menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan kerusakan tanaman.

Menurut Waspodo, pola tanam yang tidak serempak juga menjadi salah satu penyebab meningkatnya serangan OPT. Praktik tanam yang dilakukan secara tidak terjadwal membuat hama lebih mudah berkembang dan berpindah antar lahan pertanian.

Untuk mengatasi hal tersebut, PUPT terus mendorong penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan pendekatan pengelolaan agroekosistem.

"Alam sebenarnya telah memiliki keseimbangan ekosistem sendiri, termasuk keberadaan musuh alami hama yang dapat membantu menjaga stabilitas pertanian" jelasnya.

Namun di lapangan, banyak petani justru masih bergantung pada pestisida kimia. Waspodo menilai perubahan generasi petani turut memengaruhi pola pengambilan keputusan di sektor pertanian. Banyak petani lebih percaya pada informasi instan dari media digital tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang penggunaan pestisida berlebihan.

Ia juga mengungkapkan bahwa harga pestisida saat ini mengalami kenaikan sekitar 30 hingga 40 persen akibat berbagai faktor global, termasuk dampak perang dan distribusi bahan baku. Kondisi tersebut membuat biaya produksi pertanian semakin tinggi, sementara hasil panen belum tentu stabil.

Selain itu, Waspodo menekankan pentingnya upaya mengembalikan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik. Berdasarkan kondisi di lapangan, kandungan bahan organik tanah di Lumajang disebut hanya berada di kisaran 1 hingga 1,5 persen, jauh di bawah angka ideal sekitar 5 persen.

"Petani juga sempat menyampaikan agar regulasi terkait tanam serempak dapat kembali diperkuat melalui kebijakan daerah guna menekan penyebaran OPT secara lebih efektif." tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Ishak Subagiyo menjelaskan bahwa pola pertanian masa lalu sebenarnya lebih dekat dengan sistem alami, seperti penggunaan kotoran hewan tanpa ketergantungan pupuk kimia. Namun produktivitas saat itu masih rendah sehingga pemerintah kemudian mendorong penggunaan teknologi pertanian modern untuk mempercepat masa tanam dan panen.

Ia menyebutkan, jika kondisi tanah tetap sehat dan tidak mengalami retakan akibat kekeringan, maka daya simpan air juga akan lebih baik. Kondisi tersebut memungkinkan lahan bertahan lebih lama meski pasokan air terbatas.

Ishak juga mendorong penerapan pertanian berbasis alam yang dipadukan dengan teknologi tepat guna, seperti sistem drip irrigation menggunakan selang hingga pemanfaatan drone pertanian. Meski demikian, ia mengakui penerapan teknologi modern masih menghadapi tantangan biaya investasi yang tinggi serta keterbatasan adaptasi petani terhadap penggunaan alat-alat tersebut.

Di sisi lain, Waspodo menyampaikan bahwa PUPT Lumajang telah memiliki PPAH (Pos Pelayanan Agens Hayati) sebagai bagian dari upaya pengendalian hama ramah lingkungan. Selain itu, sejumlah kelompok tani juga telah mendapatkan edukasi mengenai pembuatan pupuk organik berbahan dasar kotoran hewan melalui proses fermentasi selama kurang lebih dua minggu sebelum digunakan.

Menurutnya, proses fermentasi penting dilakukan agar pupuk organik lebih aman bagi tanaman dan tidak menimbulkan gangguan organisme tanah yang merugikan.

Melalui talkshow tersebut, para narasumber berharap kesadaran petani terhadap pengelolaan air, kesehatan tanah, dan pengendalian OPT berbasis alam dapat terus meningkat. Kolaborasi antara petani, pemerintah, serta pendamping pertanian dinilai menjadi kunci penting untuk menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata. (Kominfo/Lmj-Imel/Bob)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....