Jember Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Sampah Lebaran
- 27 Mar 2026 10:27 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Pemerintah Kabupaten Jember bersama aktivis lingkungan menyiapkan strategi khusus untuk mengantisipasi lonjakan sampah selama momentum Lebaran 2026. Langkah ini dilakukan menyusul status Jember sebagai “kabupaten pembinaan” oleh Kementerian Lingkungan Hidup akibat rendahnya pengelolaan sampah.
Kepala Bidang Kebersihan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DPRKPLH Jember, Neni Soeharno Putri, mengatakan volume sampah diperkirakan meningkat hingga 40 persen selama Ramadan hingga Idulfitri.
“Pada 2025, timbulan sampah di Jember mencapai sekitar 1.046 ton per hari, namun yang terolah optimal masih sangat kecil,” ujarnya dalam program “Dialog Kentongan” Pro 1 RRI Jember, Selasa 17 Maret 2026.
Ia menambahkan, kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari saat ini cukup mengkhawatirkan, dengan ketinggian tumpukan sampah mencapai 35 meter.
“Kami terus dipantau oleh kementerian agar pengelolaan sampah di Jember bisa segera membaik,” katanya.
Untuk mengantisipasi lonjakan sampah saat Lebaran, Pemkab Jember telah menyiapkan sejumlah langkah, di antaranya menyiagakan armada pengangkut di titik keramaian dan lokasi wisata, serta menggelar kampanye Lebaran minim sampah kepada masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga akan menguji coba penjadwalan pengangkutan sampah terpisah antara organik dan anorganik di beberapa wilayah perkotaan pasca Lebaran.
Upaya lain dilakukan melalui optimalisasi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R), termasuk pengembangan rumah maggot dan pengolahan kompos guna mengurangi sampah yang masuk ke TPA.
Sementara itu, perwakilan World Cleanup Day Indonesia (WCDI) Jember, Putut Catur Sulistiono, menekankan pentingnya peran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga.
“Masalah sampah harus diselesaikan dari hulu. Edukasi terus kami lakukan agar masyarakat memahami bahwa sampah bisa memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak berlebihan dalam menyiapkan makanan selama Lebaran guna menekan jumlah sampah organik.
Di sisi lain, Pemkab Jember memastikan tidak lagi menggunakan insinerator sesuai kebijakan pemerintah pusat. Sebagai alternatif, saat ini tengah dikaji teknologi pengolahan sampah seperti
pirolisis dan Refuse Derived Fuel (RDF) dengan melibatkan akademisi dan investor.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, diharapkan pengelolaan sampah di Jember dapat semakin baik dan berkelanjutan.
“Kami berkomitmen menjadikan Jember lebih bersih sepanjang 2026 demi lingkungan yang lebih sehat bagi generasi mendatang,” kata Neni, Mengakhiri
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....