DPR Soroti Kekurangan Dermaga, Picu Macet Ketapang

  • 06 Apr 2026 13:44 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Banyuwangi – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menilai keterbatasan dermaga menjadi penyebab utama kemacetan di lintasan Ketapang–Gilimanuk saat arus mudik dan balik Lebaran 2026. Kondisi tersebut dinilai berdampak luas, tidak hanya pada distribusi logistik, tetapi juga aktivitas ekonomi dan pariwisata.

Pernyataan itu disampaikan BHS saat meninjau aktivitas penyeberangan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, sekaligus memimpin rapat koordinasi lintas stakeholder, Senin, 6 April 2026.

Rapat tersebut melibatkan ASDP Ketapang, Gapasdap, KPLP, kepolisian, TNI, Dinas Perhubungan, hingga asosiasi sopir. Dari hasil pembahasan, seluruh pihak sepakat bahwa persoalan utama bukan pada jumlah kapal, melainkan keterbatasan dermaga.

“Semua sepakat inti utamanya bukan kekurangan kapal. Kapal masih berlebih, tetapi lintasan ini kekurangan dermaga, sehingga harus segera direalisasikan penambahan dermaga,” ujar Bambang, Senin, 6 April 2026.

Ia menjelaskan, dermaga di Bulusan, Ketapang, sebenarnya sudah tersedia. Namun, belum diimbangi dengan dermaga pasangan di Gilimanuk, Bali, meski lahan disebut sudah siap dan tinggal menunggu dukungan anggaran.

Bambang menyebut kebutuhan anggaran pembangunan dermaga pasangan tersebut diperkirakan sekitar Rp300 miliar. Ia mendorong agar pembangunan bisa segera direalisasikan, baik oleh ASDP maupun melalui dukungan Kementerian Perhubungan.

“Kalau bisa tidak lebih dari Lebaran tahun depan sudah selesai. Syukur bisa digunakan untuk angkutan tahun baru. Ini kebutuhan mendesak,” ucap Bambang.

Selain itu, ia juga menyoroti penyempitan jalan dan jembatan di jalur menuju pelabuhan yang turut memicu antrean kendaraan. Menurutnya, peningkatan kapasitas akses jalan menjadi bagian penting dari solusi jangka pendek.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI), Slamet Barokah, menilai tingginya volume kendaraan yang tidak diimbangi kapasitas fasilitas penyeberangan menjadi pemicu utama kemacetan. Ia mengingatkan, jika tidak segera dievaluasi, kondisi serupa berpotensi terulang pada momen dengan mobilitas tinggi.

“Kalau ini tidak dievaluasi, ke depan kemacetan bisa lebih parah karena intensitas kendaraan logistik terus tinggi,” ujar Slamet.

Ia menambahkan, kelancaran arus di lintasan Ketapang–Gilimanuk menjadi krusial karena merupakan jalur utama penghubung Jawa dan Bali yang menopang distribusi barang, mobilitas masyarakat, serta aktivitas pariwisata.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....