Alasan Munculnya Istilah Blueprint pada Gambar Rancangan
- 17 Mei 2026 13:27 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Istilah “blueprint” selama ini sering digunakan masyarakat untuk menyebut semua gambar rancangan arsitektur atau teknik. Padahal, tidak semua gambar arsitektur merupakan blueprint dalam arti sebenarnya. Kesalahan penyebutan ini bahkan masih kerap ditemukan di media populer hingga publikasi akademik.
Dilansir dari Drawing Matter, blueprint sebenarnya hanyalah salah satu metode reproduksi gambar teknik yang populer pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Dalam dunia arsitektur, gambar asli dan hasil reproduksi memiliki perbedaan penting.
Gambar asli dibuat langsung dengan tangan menggunakan tinta atau alat gambar di atas kertas. Sementara gambar reproduksi dibuat menggunakan proses penyalinan mekanis atau kimiawi. Meski terlihat mirip, keduanya memiliki karakter dan fungsi yang berbeda.
Sebelum teknologi modern berkembang, proses menggandakan gambar arsitektur termasuk pekerjaan rumit. Salah satu metode lama adalah pricking, yakni menusuk titik-titik penting pada gambar asli menggunakan jarum logam agar dapat dijiplak ke lembar baru. Cara lainnya adalah menyalin ulang ukuran menggunakan penggaris, kompas, dan alat ukur gambar.
Perkembangan mulai berubah ketika kertas transparan atau tracing paper mulai digunakan pada abad ke-19. Kehadiran media transparan mempercepat proses penyalinan gambar, hingga akhirnya teknologi reproduksi mekanis berkembang pesat.
Menurut Drawing Matter, blueprint atau cyanotype menjadi salah satu teknologi reproduksi gambar paling populer pada masa itu. Proses ini menggunakan campuran bahan kimia sensitif cahaya seperti ferric ammonium citrate dan potassium ferricyanide yang dilapiskan ke kertas.
Ketika terkena cahaya, bagian tertentu akan berubah menjadi warna biru tua atau Prussian blue. Hasil akhirnya adalah garis putih di atas latar belakang biru. Dari sinilah istilah “blueprint” berasal.
Pada masa awal, proses pencetakan blueprint dilakukan dengan menjepit gambar asli transparan dan kertas kimia ke dalam bingkai kayu, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari selama sekitar 15 hingga 30 menit.
Namun sekitar awal 1900-an, blueprint mulai tergeser oleh teknologi baru bernama diazotype atau whiteprint. Teknologi ini menghasilkan garis gelap di atas latar putih sehingga tampilannya lebih mirip gambar asli dan lebih mudah dibaca.
Diazotype menggunakan bahan kimia diazonium salts dan gas amonia untuk memunculkan gambar. Proses ini lebih praktis karena tidak perlu dicuci seperti blueprint. Mesin diazo bahkan sempat menjadi perlengkapan standar di banyak kantor arsitek hingga akhir abad ke-20. Salah satu ciri khas hasil diazotype adalah aroma amonia yang masih bisa tercium pada salinan baru selesai dicetak.
Dalam praktiknya, beberapa kantor arsitektur sempat menggunakan blueprint dan diazotype secara bersamaan. Salah satu contohnya ditemukan pada koleksi gambar arsitek Prancis Jean-Charles Moreux sekitar tahun 1927, dengan sebagian gambar dibuat dengan cyanotype dan sebagian lainnya menggunakan diazotype.
Meski kini teknologi digital telah menggantikan sebagian besar metode tersebut, istilah blueprint masih bertahan dalam budaya populer sebagai sebutan umum untuk semua gambar rancangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....