Stone Island, Eksperimen Material di Setiap Produk Busananya
- 31 Jan 2026 20:50 WIB
- Jember
RRI.CO.ID, Jember – Jika banyak orang mengenal Stone Island lewat logo kompas ikonik di lengannya, esensi sejati merek asal Italia ini justru terletak pada inovasi material dan eksplorasi warna yang nyaris menyerupai kerja laboratorium sains. Di markas besarnya di Ravarino, Emilia-Romagna, proses penciptaan warna dan kain Stone Island bahkan kerap dianalogikan seperti “memasak” di dapur, dengan sekitar 60 ribu resep warna berbeda yang terus dikembangkan.
Mengutip laporan wallpaper.com, pusat riset Stone Island di Ravarino memiliki fasilitas pewarnaan atau tintoria yang dipenuhi drum pewarna, mesin cuci industri, pipa-pipa rumit, hingga cairan warna mencolok yang menyerupai ramuan kimia. Di sinilah desain dan teknologi bertemu. Sasha Kanevskyi, Design Director Stone Island, menjelaskan bahwa tim desain terlebih dahulu menyusun palet warna, lalu menyerahkannya kepada tim warna untuk diterjemahkan menjadi “resep” pewarnaan yang presisi.
Kanevskyi menyebut Stone Island sebagai tempat yang unik karena para desainer dapat bekerja langsung dengan tim internal tanpa bergantung pada pabrik eksternal. Cara kerja ini sudah menjadi DNA perusahaan sejak Stone Island didirikan pada 1982 oleh Massimo Osti, seorang desainer grafis asal Bologna yang dikenal sebagai pionir eksplorasi material dalam dunia busana.Menurut wallpaper.com, tim desain Stone Island yang berbasis di Milan rutin datang ke Ravarino setiap pekan untuk berkolaborasi dengan teknisi lintas departemen. Proses produksi di Stone Island sangat saling terkait, mulai dari pemilihan material, teknik pewarnaan, pencucian, hingga penyusutan kain yang dapat memengaruhi bentuk akhir desain. Tidak ada satu departemen pun yang bekerja secara terpisah, karena setiap tahapan saling mempengaruhi satu sama lain.Kolaborasi intens ini menciptakan ikatan kuat antar karyawan. Banyak dari mereka bahkan menghabiskan seluruh kariernya di Stone Island. Semangat kolektif ini turut diabadikan dalam film Infinite Colours karya Ken-Tonio Yamamoto, yang merekam dinamika kerja di pabrik. Meski teknologi yang digunakan semakin canggih, Stone Island tetap menekankan peran sentuhan manusia, terutama para ilmuwan warna internal yang dianggap tak tergantikan oleh mesin.Lingkungan Ravarino sendiri turut membentuk identitas Stone Island. Wilayah ini berada di antara Bologna dan Modena, kawasan yang dikenal sebagai “Motor Valley”, rumah bagi merek otomotif legendaris seperti Ferrari, Lamborghini, Ducati, dan Maserati. CEO Stone Island, Robert Triefus, yang bergabung pada 2023 setelah 15 tahun di Gucci, menilai bahwa budaya desain industri otomotif sangat mempengaruhi karakter Stone Island. Ia bahkan menegaskan, Stone Island bukan sekadar merek fesyen, melainkan merek berbasis produk, fungsi, riset, dan materialitas, selaras dengan industri otomotif kelas dunia.Secara internal, fasilitas desain Stone Island dijuluki “the lab”. Filosofi ini sejalan dengan visi awal Massimo Osti yang ingin menciptakan kain dan pakaian revolusioner dengan fungsi baru. Sejak era awal dengan material ikonik Tela Stella yakni kanvas berlapis yang biasa digunakan untuk penutup truk, Stone Island terus bereksperimen dengan bahan ekstrem, mulai dari Kevlar, nylon metal, hingga teknologi nano tembaga. Bahkan, menurut wallpaper.com, Stone Island pernah menciptakan jaket berbahan film baja tahan karat 100 persen, material yang lazim dipakai di kokpit pesawat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....