Trading Card, Hobi Koleksi Kartu yang Terus Hidup

  • 28 Jan 2026 05:00 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember – Mengoleksi kartu atau trading card game (TCG) bisa juga collectible card game (CCG)  merupakan hobi yang telah bertahan lebih dari satu abad dan terus berkembang mengikuti zaman. Aktivitas ini tidak hanya menawarkan kesenangan pribadi, tetapi juga peluang investasi yang menjanjikan bagi sebagian kolektor. Mulai dari kartu olahraga klasik hingga kartu permainan modern, dunia trading card mencerminkan perpaduan antara budaya populer, sejarah, dan dinamika pasar.

Mengutip ulasan ebsco.com, TCG pertama kali muncul pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat dan Inggris. Awalnya, kartu-kartu ini digunakan sebagai alat pemasaran produk seperti rokok dan teh, sekaligus berfungsi sebagai penguat kemasan. Meski begitu, sejak awal kemunculannya, kartu tersebut sudah menarik minat untuk dikoleksi. Subjeknya pun beragam, mulai dari peristiwa bersejarah, tokoh petualang, hewan, hingga figur olahraga.

Salah satu jenis TCG paling ikonik adalah kartu bisbol. Kartu ini awalnya disertakan dalam kemasan rokok, namun karena populer di kalangan anak-anak, produsen permen dan produk lain yang dianggap lebih “ramah” ikut memproduksinya. Seiring waktu, kartu rokok pun ditinggalkan. Hingga kini, ukuran standar trading card ditetapkan 2,5 x 3,5 inci dan menjadi acuan global.

Perkembangan besar terjadi pada 1930-an dan 1940-an ketika perusahaan seperti Goudey, Bowman, dan Topps mulai memproduksi kartu secara massal dalam bentuk set. Menurut ebsco.com, set kartu bisbol Topps tahun 1952 menjadi salah satu yang paling diburu kolektor hingga saat ini. Selain atlet, kartu era tersebut juga menampilkan bintang film, tokoh legendaris, hingga karakter serial populer seperti Tarzan of the Apes.

Memasuki abad ke-21, dominasi kartu olahraga mulai berbagi panggung dengan jenis baru, yakni collectible card game. Permainan kartu seperti Magic: The Gathering, Yu-Gi-Oh!, dan Pokémon menarik minat generasi muda dan menjadi pintu masuk utama mereka ke dunia koleksi kartu. Ebsco.com mencatat, banyak kolektor muda saat ini lebih mengenal dunia kartu melalui permainan tersebut dibanding kartu olahraga tradisional.

Dalam dunia koleksi, kondisi dan kelangkaan kartu menjadi faktor penentu nilai. Untuk itu, sistem penilaian atau grading dikembangkan guna menstandarkan kualitas kartu. Penilaian dilakukan oleh pihak independen, dengan skala angka hingga mendekati sempurna, misalnya 9,7 dari 10 untuk kartu berstatus mint. Selain sistem angka, istilah seperti mint, excellent, hingga poor juga lazim digunakan untuk menggambarkan kondisi fisik kartu.

Kelangkaan kartu ditentukan oleh jumlah produksi dan distribusinya. Namun, pada era modern, kelangkaan sering kali “direkayasa” melalui edisi terbatas yang sebenarnya diproduksi dalam jumlah besar. Praktik ini kerap mengecoh kolektor pemula yang mengira kartu tersebut bernilai tinggi.

Tren penting lainnya adalah kehadiran internet. Sejak awal 1990-an, pencarian kartu yang sebelumnya mengandalkan katalog, iklan, dan konvensi kini beralih ke platform daring. Situs lelang seperti eBay serta platform khusus seperti PWCC membuka akses global bagi kolektor untuk menemukan hampir semua jenis kartu. Selain itu, inovasi seperti kartu holografik, kartu bertanda tangan, kartu heritage, dan layanan autentikasi semakin memperkaya dunia koleksi.

Mengoleksi kartu bisa dilakukan untuk kesenangan maupun keuntungan. Kolektor yang berorientasi profit cenderung lebih memperhatikan nilai pasar dan potensi kenaikan harga dibanding sekadar kelengkapan koleksi. Keberhasilan investasi kartu memerlukan kejelian membaca tren, kesabaran, dan kemampuan bertransaksi. Tidak sedikit kolektor yang akhirnya beralih menjadi pedagang, meski ada pula pedagang yang memandang kartu semata sebagai komoditas.

Dengan sejarah panjang, ragam tema, serta perkembangan teknologi yang pesat, trading card collecting tetap menjadi hobi yang dinamis. Baik sebagai sarana nostalgia, ekspresi minat budaya, maupun instrumen investasi, dunia kartu koleksi terus menarik perhatian lintas generasi.




​​
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....