Lari Jarak Jauh: Melepas Stres atau Menambah Risiko?

  • 24 Des 2025 15:52 WIB
  •  Jember

KBRN, Jember: Lari jarak jauh kerap dipilih sebagai cara melepas stres dan menjaga kebugaran. Aktivitas ini mampu memberikan efek relaksasi, namun berpotensi menambah risiko kesehatan bila dilakukan tanpa persiapan yang tepat. Keseimbangan menjadi faktor penentu manfaatnya. Secara psikologis, lari jarak jauh membantu menurunkan tingkat stres melalui pelepasan hormon endorfin. Aktivitas berulang dengan ritme stabil dapat menciptakan efek menenangkan bagi pikiran. Lansiran Harvard Medical School menyebut olahraga aerobik berkontribusi terhadap perbaikan suasana hati dan kualitas tidur.

Namun, lari jarak jauh juga membawa risiko fisik bila dilakukan berlebihan. Beban berulang pada otot, sendi, dan sistem kardiovaskular dapat memicu kelelahan kronis. Lansiran American College of Sports Medicine menyebut latihan berdurasi panjang tanpa pemulihan memadai meningkatkan risiko cedera overuse. Risiko lain muncul ketika pelari mengabaikan sinyal tubuh. Detak jantung yang terlalu tinggi, nyeri berkepanjangan, atau kelelahan ekstrem merupakan tanda tubuh membutuhkan istirahat. Tanpa penyesuaian intensitas, manfaat lari dapat berubah menjadi tekanan fisik dan mental.

Manajemen latihan menjadi kunci untuk menjaga manfaat lari jarak jauh. Pengaturan jarak, kecepatan, dan hari pemulihan membantu tubuh beradaptasi dengan beban latihan. Lansiran Mayo Clinic merekomendasikan variasi intensitas untuk mencegah stres berlebih pada tubuh. Aspek nutrisi dan hidrasi juga memengaruhi dampak lari jarak jauh. Asupan energi yang cukup membantu menjaga stabilitas fisik dan mental selama latihan. Kurangnya nutrisi dapat mempercepat kelelahan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Lari jarak jauh dapat menjadi sarana efektif untuk melepas stres sekaligus menjaga kebugaran. Namun, tanpa pengelolaan yang tepat, aktivitas ini berpotensi menambah risiko. Dengan pendekatan seimbang, manfaat fisik dan mental dari lari jarak jauh dapat diperoleh secara optimal.

Sumber: Harvard Medical School; American College of Sports Medicine; Mayo Clinic

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....