Tren Traveling Ramah Lingkungan Tahun Ini
- 22 Okt 2025 14:09 WIB
- Jember
KBRN, Jember: Dunia pariwisata kini bergerak menuju arah yang lebih berkelanjutan. Eco-friendly travel atau traveling ramah lingkungan menjadi tren global tahun ini, terutama di kalangan wisatawan muda yang peduli terhadap dampak perjalanan terhadap alam. Tidak sekadar menikmati destinasi wisata, kini banyak pelancong ingin memastikan setiap langkah mereka turut menjaga kelestarian bumi dikutip dari World Economic Forum:
1. Munculnya Kesadaran Baru dalam Pariwisata
Setelah pandemi, banyak orang menyadari pentingnya hubungan antara manusia dan alam. Laporan World Tourism Organization (UNWTO, 2024) menunjukkan bahwa 76 persen wisatawan global kini mempertimbangkan dampak lingkungan sebelum memilih destinasi. Kesadaran ini melahirkan gaya perjalanan baru — wisata dengan tanggung jawab lingkungan, sosial, dan budaya. Wisatawan mulai memilih transportasi rendah emisi, menginap di hotel ramah lingkungan, serta berpartisipasi dalam kegiatan lokal yang mendukung ekonomi masyarakat sekitar.
2. Destinasi Hijau Semakin Diminati
Destinasi wisata yang menonjolkan konsep keberlanjutan kini menjadi incaran para pelancong. Kawasan seperti Bali, Ubud, dan Raja Ampat di Indonesia masuk daftar destinasi ramah lingkungan dunia karena penerapan sistem konservasi dan pengelolaan sampah yang baik. Menurut laporan National Geographic Travel (2024), permintaan untuk wisata alam, eco-lodge, dan aktivitas luar ruangan meningkat hingga 40 persen. Wisatawan kini lebih memilih trekking, snorkeling konservasi, hingga pertanian organik sebagai alternatif dari wisata massal yang padat dan merusak ekosistem.
3. Transportasi dan Akomodasi Berkelanjutan
Salah satu fokus utama dari tren eco-travel adalah pengurangan jejak karbon selama perjalanan. Banyak maskapai penerbangan kini mulai menggunakan bahan bakar berkelanjutan (sustainable aviation fuel) untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Sementara itu, industri perhotelan juga ikut bertransformasi. Menurut Booking.com Sustainable Travel Report (2024), lebih dari 70 persen hotel di dunia kini menerapkan praktik ramah lingkungan seperti penggunaan energi terbarukan, pengurangan plastik sekali pakai, dan sistem pengelolaan air efisien. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata hijau tidak lagi menjadi pilihan eksklusif, melainkan kebutuhan industri global.
4. Peran Generasi Muda dalam Gerakan Eco-Travel
Generasi milenial dan Gen Z menjadi penggerak utama tren ini. Mereka tidak hanya ingin berlibur, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan. Banyak dari mereka terlibat dalam program voluntourism — gabungan antara wisata dan kegiatan sosial seperti penanaman pohon, pembersihan pantai, atau edukasi lingkungan bagi warga lokal. Survei Expedia Group (2024) mencatat bahwa 63 persen wisatawan muda bersedia membayar lebih mahal untuk perjalanan yang lebih ramah lingkungan. Fenomena ini menandakan pergeseran nilai, di mana pengalaman bermakna dianggap lebih penting daripada kemewahan semata.
5. Teknologi dan Digitalisasi untuk Perjalanan Berkelanjutan
Kemajuan teknologi juga mendorong tumbuhnya green travel. Aplikasi perjalanan kini dapat membantu wisatawan menghitung jejak karbon, memilih transportasi hijau, hingga menemukan restoran berkonsep farm-to-table. Menurut World Economic Forum (2024), inovasi digital menjadi kunci utama dalam menciptakan sistem pariwisata berkelanjutan. Dengan data dan teknologi, destinasi wisata dapat lebih mudah memantau kapasitas pengunjung, menjaga keseimbangan ekosistem, dan memastikan wisata tetap beretika.
Tren traveling ramah lingkungan bukan sekadar gaya hidup, melainkan gerakan global menuju masa depan pariwisata yang lebih bertanggung jawab. Wisata kini bukan hanya tentang destinasi yang indah, tetapi juga tentang bagaimana manusia menghargai dan melestarikan alam yang dikunjungi. Dengan kesadaran, inovasi, dan dukungan industri, traveling berkelanjutan akan terus menjadi wajah baru pariwisata dunia yang lebih hijau dan bermakna.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....