Belanja Bulanan atau saat Habis, Mana yang Lebih Hemat?

  • 15 Sep 2026 07:37 WIB
  •  Jember

RRI.CO.ID, Jember - Setiap rumah memiliki kebutuhan yang harus tersedia setiap hari. Ada beras, minyak goreng, gula, tepung dan bumbu dapur untuk memasak. Di sisi lain, sabun mandi, sampo, pasta gigi dan deterjen juga menjadi kebutuhan yang rutin digunakan. Untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut, setiap orang punya cara belanja masing-masing. Ada yang memilih belanja sekaligus di awal bulan, ada pula yang baru pergi ke toko ketika barang di rumah mulai habis.

Bagi Mora, belanja bulanan terasa lebih praktis. Ia biasanya berbelanja pada awal bulan setelah menerima gaji agar kebutuhan rumah sudah tersedia dan pengeluaran lebih mudah diatur. “Saya memilih belanja setiap awal bulan setelah gajian. Jadi kebutuhan rumah sudah tersedia dan rasanya lebih aman sampai akhir bulan,” ujar Mora, Minggu 13 September 2026.

Dengan cara tersebut, Mora tidak perlu terlalu sering pergi berbelanja. Kebutuhan utama seperti bahan makanan dan perlengkapan rumah tangga bisa disiapkan sekaligus, sementara pembelian berikutnya hanya dilakukan jika ada barang yang benar-benar habis. Namun, cara berbeda dipilih Yati. Ia lebih nyaman membeli kebutuhan satu per satu ketika persediaannya habis. Baginya, cara ini membantu membatasi barang yang masuk ke keranjang belanja. “Saya lebih baik belanja setiap barang habis. Kalau belanja langsung di supermarket jadi satu, saya kalap,” kata Yati.

Dari dua kebiasaan tersebut, pertanyaan soal mana yang lebih hemat sebenarnya tidak memiliki satu jawaban. Belanja bulanan bisa lebih hemat bagi orang yang mampu membuat daftar dan disiplin mengikutinya. Selain menghemat waktu, frekuensi pergi ke toko juga menjadi lebih sedikit. Sebaliknya, belanja saat barang habis dapat membantu seseorang membeli sesuai kebutuhan. Cara ini cocok bagi mereka yang tidak ingin menyimpan terlalu banyak stok atau mudah tergoda membeli barang tambahan ketika melihat banyak pilihan di supermarket. Namun, belanja bulanan juga bisa menjadi boros jika seseorang memasukkan terlalu banyak barang yang tidak diperlukan. Begitu pula dengan belanja berkali-kali dalam sebulan. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa menumpuk tanpa terasa.

Kebiasaan membeli lebih banyak dari rencana juga dibahas dalam artikel Real Simple yang terbit 8 April 2026. Salah satu pemicunya adalah promo atau potongan harga yang membuat seseorang merasa sedang mendapatkan keuntungan. Behavioral Scientist, Kieva Hranchuk, Ph.D., menjelaskan bahwa diskon dapat mendorong konsumen membeli lebih banyak dari yang direncanakan. “Diskon tersebut terasa seperti sebuah keuntungan, sehingga kita membenarkan pembelian lebih banyak untuk memaksimalkan penawaran,” jelas Hranchuk. Artinya, harga murah belum tentu membuat belanja menjadi hemat. Jika barang tersebut tidak benar-benar dibutuhkan, potongan harga justru bisa membuat pengeluaran bertambah.

Karena itu, cara paling sederhana untuk menghemat adalah mengecek persediaan di rumah sebelum berbelanja. Lihat isi dapur, kulkas, kamar mandi dan tempat penyimpanan lainnya. Setelah itu, buat daftar barang yang memang sudah habis atau hampir habis. Daftar tersebut sebaiknya menjadi batas saat berbelanja. Ketika menemukan barang lain yang menarik, terutama karena sedang promo, beri waktu sejenak untuk berpikir sebelum memasukkannya ke keranjang.

Pada akhirnya, belanja bulanan dan belanja saat barang habis sama-sama bisa hemat, asalkan dilakukan dengan perencanaan dan disiplin. Belanja bulanan lebih cocok bagi yang ingin mengatur kebutuhan sekaligus, sedangkan belanja saat habis bisa menjadi pilihan bagi yang ingin lebih ketat membatasi pembelian. Jadi, bukan frekuensi belanjanya yang menentukan hemat atau boros. Yang paling menentukan adalah membeli sesuai kebutuhan, memiliki batas anggaran dan tidak mudah tergoda membeli barang di luar rencana.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....